Senin, 14 Januari 2019

DWI WINDU SRMB

 DOPOKAN GAYENG MATON SENI PEDALANGAN KEBUMENAN
Seni Pedalangan di Kebumen ternyata memiliki gaya atau gagrag tersendiri, yang karakternya agak berbeda dengan seni pedalangan yang berkembang secara umun di Jawa atau bahkan di Indonesia. Secara umum kita mengenal ada seni pedalangan Gagrag Surakarta, Gagrag Yogyakarta, Gagrag Tegalan, Gagrag Banyumasan dan lain sebagainya.

Akan tetapi seni pedalangan Gagrag Kebumen, yang konon dianggap sebagai cikal bakalnya seni pedalangan gagrag banyumasan itu, justru kurang dikenal. Barangkali salah satu penyebabnya adalah tidak adanya kajian ilmiah atau penelitian ilmiah dan forum-forum yang secara intens berusaha membedah adanya seni pedalangan gagrag kebumenan.






Kondisi seperti ini perlu disikapi oleh berbagai elemen masyarakat Kebumen, dengan melakukan berbagai upaya untuk secara intens berusaha membedah adanya seni pedalangan gagrag kebumenan..
Dalam rangka menjawab persoalan tersebut maka, Sekolah Rakyat Melubae (SRMB) Kebumen  sebagai bagian dari elemen masyarakat Kebumen, pada acara ulang tahunnya yang ke-16, menyelenggarakan acara Rubungan Dopokan Gayeng Maton dengan tema Seni Pedalangan Kebumen bersama Ki Basuki Hendro Prayitno dalang sepuh dari Ambal Kebumen.
Darmawan Riyadi selaku ketua panitia penyelenggara menyampaikan “ Melalui acara yang diselenggarakan di Balai Kelurahan Kebumen pada Minggu malam (13/1) mulai pukul 20.00 wib tersebut diharapkan akan :
1.    Menyegarkan kembali ingatan kita akan adanya Seni Pedalangan, baik Wayang Kulit ataupun Wayang Golek Menak Gagrag Kebumen
2.    Tumbuhnya kebanggaan pada potensi seni pedalangan di Kebumen, pada masyarakat dan pada generasi muda.  
3.    Tumbuhnya kecintaan pada potensi seni pedalangan di Kebumen, pada masyarakat dan pada generasi muda.
Hadir diantara puluhan para pemerhati budaya dan pelaku seni Kebumen pada  Rubungan Dopokan Gayeng Maton, selaku nara sumber Ki Basuki Hendro Prayitno, dalang senior dari Ambal, dan Ki Joko Bledeg atau Teguh Budi Santoso, dalang muda dari Bonorowo. 




Nampak hadir juga RH Ageng Sulistyo Handoko Staf Ahli Bupati, Miftahul Ulum Wk.Ketua DPRD Kebumen, Hartono dari Komisi B DPRD Kebumen, Lulus Paryadi, dan Ketua DKD Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo.
Nampak hadir juga RH Ageng Sulistyo Handoko Staf Ahli Bupati


Acara Rubungan yang dipandu oleh Jatmiko Kresnajati tersebut, diawali dengan pementasan seni Jamjaneng dari Panjer Kebumen yang dilanjutkan dengan prakata  ketua panitia Darmawan Riyadi dan Refleksi SRMB oleh Aris Panji WS. Acara dilanjutka dengan Pemotongan salah satu tumpeng dari 16 tumpeng yang ada oleh “Kepala Sekolah” SRMB Daryono Cengkim dan diserahkan kepada Ki Basuki Hendro Prayitno. R.H Ageng Sulistyo Handoko, Miftahul Ulum, Hartono, perwakilan Polsek Kebumen Kota dan perwakilan Lurah Kebumen. Adapun jumlah tumpeng 16 buah tersebut melambangkan 16 tahun usia SRMB.
Acara Rubungan dipandu oleh Jatmiko Kresnajati

Prakata  ketua panitia Darmawan Riyadi 

Refleksi SRMB oleh Aris Panji WS


Pemotongan salah satu tumpeng dari 16 tumpeng yang ada oleh “Kepala Sekolah” SRMB Daryono Cengkim dan diserahkan kepada Ki Basuki Hendro Prayitno
Pada puncak acara Dopokan Gayeng Maton, setelah diawali dengan pemaparan Perkembangan Pedalangan di Kebumen dan Harapannya ke depan oleh dalang Joko Bledeg atau Teguh Budi Santoso, dilanjutkan dengan pemaparan Seni Pewayangan Kebumen oleh Ki Basuki Hendro Prayitno.
Beliau menyampaikan bahwa Wayang Golek Menak Kebumen merupakan bentuk kesenian wayang golek yang sangat khas, yang tidak diketemukan di daerah lain. Sehingga semasa mendiang mertua beliau Ki Sindhu Jotaryono masih ada, sudah pernah didokumentasikan menjadi tulisan ilmiah yang menjadi bahan pengajaran di ISI Surakarta dan ISI Yogyakarta. Bahkan tulisan tersebut telah di terjemahkan kedalam bahasa Inggris.
Ki Basuki,  (75 tahun)  berkesempatan mengungkap sekilas sejarah Kebumen dengan peragaan wayang golek menak, di iringan jamjaneng
Yang menarik adalah pada kesempatan tersebut Ki Basuki, yang kini telah berusia 75 tahun itu berkesempatan mengungkap sekilas sejarah Kebumen dengan peragaan wayang golek menak, dengan iringan jamjaneng. Meskipun hal tersebut dilakukan secara sepontan tanpa persiapan akan tetapi karena kolaborasi antara Wayang Golek dengan Jamjaneng adalah hal yang baru, maka pemaparan Ki Basuki dari Ambal menjadi sangat memikat perhatian yang hadir di acara tersebut.
Harapan Ki Basuki Hendro Prayitno dengan penampilan tersebut audien dapat memahami bahwa pelaku, khususnya seni pedalangan dan seni tradisi pada umumnya harus melakukan inovasi supaya dapat tetap eksis menjawab tantangan jaman. “ Mengadakan sesuatu yang baru berdasarkan bahan yang sudah ada”.
Beliau selain mengingatkan bahwa bagi pelaku seni harus selalu menghargai penonton, karena penonton adalah guru yang baik, beliau juga berharap seni Wayang Golek Menak, khususnya tokoh wayang golek Marmoyo atau Umar Maya dapat menjadi ikon kesenian Kebumen.

Mengingat masyarakat Kebumen yang agamis, dan seni wayang golek menak merupakan bentuk kesenian yang mengandung syiar agama Islam. Sehingga Wayang Golek Menak khas Kebumen ini sangat sesuai dipentaskan pada even-even peringatan hari besar Islam”. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar