Kamis, 28 Maret 2019

JEMBLUNG LAKON KERTINEGARA SRUNI PENTAS DI TMII

Duta Seni dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen foto bersama seusai gladi resik pementasan Jemblung Kolaborasi  Lakon Tumenggung Kertinegara dari babad Sruni Kebumen, di Aula Dinas Pendidikan Kebumen (26/3)
Duta Seni dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen bakal mementaskan Lakon Tumenggung Kertinegara dari babad Sruni Kebumen, di Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, pada Minggu, 31 Maret 2019.

Duta Seni dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen foto bersama seusai gladi resik pementasan Jemblung Kolaborasi  Lakon Tumenggung Kertinegara dari babad Sruni Kebumen, di Aula Dinas Pendidikan Kebumen (26/3)
Pementasan yang dikemas dalam bentuk kesenian Jemblung tersebut oleh BE Susilohadi S.Pd dikolaborasikan dengan seni drama tari sehingga menjadi suguhan pementasan yang menarik untuk ditonton.
Kesenian jemblung sendiri sebenarnya merupakan seni tradisi lisan yang merupakan kesenian asli Kebumen. Namun sayangnya kesenian tersebut sudah mulai dilupakan oleh masyarakat Kebumen. Bahkan banyak diantara mereka yang sama sekali sudah tidak mengenal lagi seperti apa bentuk kesenian jemblung.
BE Susilohadi, Kasi Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen berusaha mengangkat kembali kesenian jemblung yang sudah tidak begitu dikenal dengan mengkolaborasikan dengan seni  tradisional yang lain seperti  Tari Cepetan, Tari Ebleg, Kethoprak, Tari Gambyong Kebing dan Tari Wira Pertiwi dalam komposisi drama tari. 

Penari Putri Duta Seni dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen saat gladi resik pementasan Jemblung Kolaborasi  Lakon Tumenggung Kertinegara dari babad Sruni Kebumen, di Aula Dinas Pendidikan Kebumen (26/3)

Kesungguhan BE Susilohadi dalam garapan tersebut terlihat dari dilibatkanya  Jemblung  dari Sanggar Seni Wisma Budaya Puring  dan beberapa pelaku seni tradisional senior yang sudah cukup berpengalaman berkecimpung didalam kesenian tradisional di Kebumen. Mereka itu antara lain Gim Warjito, S.Pd,M.Pd, Widodo S.Sn, Bambang Sis. S.Pd. Pardiman, Genjik Suratno, Bagiyo, Eko Haryono SE, Doyok Ramelan, Ami Ratminah,  Endang Purwatiningsih, S.Pd .dan sinden Sulastri. Dalam garapan tersebut juga dilibatkan pelaku seni teater Pekik Sat Siswonirmolo dan Putut Akhmad Su’adi S.Hum.

Pada pementasan tersebut didukung oleh 116 personil, yang terdiri dari seniman Jamjaneng, seniman Jemblung, seniman karawitan, seniman kethoprak, seniman teater, penari putra , penari putri dan, seniman penata setting panggung.
“Pementasan  di Anjungan Jawa Tengah TMII nanti akan diawali dengan penampilan Jamjaneng, yang kemudian dilanjutkan dengan pagelaran  Jemblung Kolaborasi yang didukung oleh para seniman-seniman senior. Sehingga  diharapkan pementasan duta seni tahun ini akan lebih baik, lebih menarik dari tahun-tahun sebelumnya,” kata BE Susilohadi selaku sutradara saat gladi bersih (26/3)
BE Susilohadi menambahkan bahwa  lakon Tumenggung Kertinegara diambil dari Babad Sruni, merupakan kisah kepahlawanan Tumenggung Kertinegara, ketika berusaha memperingatkan tindak  kesewenang-wenangan Sultan Amangkurat Agung saat berkuasa di Mataram. Kisah Tumenggung Kertinegara sarat dengan konflik kemanusiaan, yang dapat diselesaikan dengan sangat bijaksana oleh Tumenggung Kertinegara dari Sruni.


Penari Putra Duta Seni dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen saat gladi resik pementasan Jemblung Kolaborasi  Lakon Tumenggung Kertinegara dari babad Sruni Kebumen, di Aula Dinas Pendidikan Kebumen (26/3)
Korwil Bidik Rowokele Gim Warjito pelaku seni yang turut mendukung pagelaran tersebut  mengatakan Selaku pelaku seni mengapresiasi secara maksimal pagelaran di Taman Mini Indonesia Indah dengan lakon Kertinegara , karena hal tersebut akan menguatkan eksistansi Kabupaten Kebumen. Terutama dengan menggarap seni tradisi. Karena seni tradisi merupakan elemen penting dalam garapan sumberdaya manusia dalam rangka membangun manusia seutuhnya. Segmen seni tradisi ada di seluruh lapisan masyarakat.  Melalui tahapan kontemplasi wawasan kesenian harus bisa menyentuh hati manusia yang paling dalam.  Kontemplasi dalam seni adalah hening ke masa lalu, masa lalu yang berkaitan dengan seni, karena seni adalah kesan yang indah. Masa lalu tidak indah bila tidak dikaitkan dengan seni, salah satu seni yang berkitan dengan masa lalu diantaranya adalah seni tradisi, maka untuk menggarap sumber daya manusia khususnya generasi muda tidak boleh melupakan seni tradisi yang adiluhung. Seni tradisi tidak boleh hilang dari tata kehidupan masyarakat.


Kabid PDK Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen, Aminah, S.Pd,MM seusai menyaksikan gladi bersih menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya pada seluruh pemain, meskipun masih ada beberapa kekurangan dalam hal keharmonisan keselarasan gerak tari dengan iringan gamelan, tetapi secara umum sudah baik, indikatornya adalah ketika pementasan itu berhasi membawa penonton dalam suasana yang menyentuh perasaan dan  klimaknya sudah bisa membuat penonton merinding itu berati berhasil . Selanjutnya Aminah, S.Pd,MM  optimis pada pementasan di TMII nanti akan dapat terlaksana dengan lebih baik.

Rabu, 27 Maret 2019

SENIMAN-SENIMAN KAWAKAN KEBUMEN DUKUNG PEMENTASAN DI TMII

Lakon Tumenggung Kertinegara dari babad Sruni Kebumen, bakal di pentaskan Duta Seni Kabupaten Kebumen di Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, pada Minggu, 31 Maret 2019. Pada pementasan tersebut didukung oleh 50 personil, yang terdiri dari seniman Jamjaneng, seniman
Jemblung, seniman karawitan, seniman kethoprak, seniman teater, penari putra dan penari putri.

Gim Warjito, S.Pd,M.Pd, Pardiman, Genjik Suratno,  Doyok Ramelan mendukung Duta Kesenian Kebumen Ke Anjungan Jawa Tengah TMII pada pagelaran Minggu 31 Maret 2019
Yang menarik ada beberapa seniman kawakan yang sudah cukup berpengalaman berkecimpung didalam kesenian tradisional di Kebumen, turut terlibat mendukung pementasan yang dikemas dalam bentuk kesenian Jemblung  dengan berkolaborasi dengan drama tari tersebut . Mereka itu diantaranya Gim Warjito, S.Pd,M.Pd, Widodo S.Sn, Bambang Sis. S.Pd. Pardiman, Genjik Suratno, Subagyo, Eko Haryono SE, Doyok Ramelan, Ami Ratminah,  Endang Purwatiningsih, S.Pd .dan sinden Sulastri. Dalam garapan tersebut juga dilibatkan pelaku seni teater Pekik Sat Siswonirmolo dan Putut Akhmad Su’adi S.Hum.

Menurut BE Susilohadi Selaku sutradara pementasan saat gladi acara, dengan dukungan dari para seniman-seniman senior tersebut, diharapkan pementasan duta seni tahun ini akan lebih baik, lebih menarik dari tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan dari pengakuan para seniman itu disela-sela saat latihan di Aula Dinas Pendidikan Kebumen, diantaranya Pardiman seniman kethoprak kawakan dari Sitiadi Puring mengatakan selaku seniman, telah main kethoprak, sejak tahun 1972 setamat sekolah STM. Pardiman dalam bermain kethoprak dikenal lebih sering berperan sebagai tokoh antagonis.
Kemudian Gim Warjito dari Harjodawa Kuwarasan telah main Kethoprak sejak tahun 1982, setamat SPG.
Gim Warjito yang saat ini menjabat Korwil Bidik Rowokele menambahkan bahwa menjadi pemain kethoprak karena terinspirasi pada permainan kethoprak Pardiman yang berperan sebagai tokoh antagonis di Puring, pada saat berperan sebagai Tapak Deruk pada lakon Pedang Pusaka Gunung Arcapala.

Lebih lanjut Gim Warjito mengatakan Selaku pelaku seni mengapresiasi secara maksimal pagelaran di Taman Mini Indonesia Indah yang akan menunjukkan eksistansi Kabupaten Kebumen. Terutama dengan menggarap seni tradisi. Karena seni tradisi merupakan elemen penting dalam garapan sumberdaya manusia dalam rangka membangun manusia seutuhnya. Segmen seni tradisi ada di seluruh lapisan masyarakat.  Melalui tahapan kontemplasi wawasan kesenian harus bisa menyentuh hati manusia yang paling dalam.  Kontemplasi dalam seni adalah hening ke masa lalu, masa lalu yang berkaitan dengan seni, karena seni adalah kesan yang indah, masa lalu tidak indah bila tidak dikaitkan dengan seni, salah satu seni yang berkitan dengan masa lalu diantaranya adalah seni tradisi, maka untuk menggarap sumber daya manusia khususnya generasi muda tidak boleh melupakan seni tradisi. Seni tradisi tidak boleh hilang dari tata kehidupan masyarakat.




Minggu, 03 Maret 2019

Pementasan Titik Kumpul

Performance Titik Kumpul dari Kecamatan Ayah
Dalam Rangka penggalangan dana untuk Persiapan Pementasannya di Taiwan, komunitas Titik Kumpul dari kecamatan Ayah, pada Sabtu 23 Februari 2019 pukul 20.00,  melakukan pentas di Panggung Terbukan Diskominfo Kebumen. Pijar Sudiro dari Titik Kumpul mengatakan " Acara apresiasi seni dalam rangka persiapan mengikuti festival seni di Taiwan, Komunitas Titik Kumpul mengadakan pentas penggalangan dana."



Adapun sinopsis pementasan dengan judul Ha'Ra adalah sebagai berikut 
Ha’Ra
Berangkat dari kehadiran dan kiprah seorang seniman legendaris. Menggambarkan keteguhan dan keyakinan dalam menjaga jati diri kebudayaan lokal melaui seni pertunjukan. Perjuangan yang berdarah darah dalam merengkuh kesenian dan budaya lokal, baik di atas panggung maupun di luar panggung (kehidupan sosial) menjadi bagian yang diangkat sebagai alur dramatik karya “Ha’Ra”. Lahirnya karya “Ha’Ra” sekaligus adalah cerminan tentang penghargaan generasi muda terhadap nilai-nilai budaya lokal dan sejarahnya. Siapakah dia? Sosok wanita yang sederhana, lemah gemulai, berparas cantik, baik tutur kata dan sikapnya; Cablaka (Seblaka Sesutane). Segala tentangnya,  menjadikan ia sosok seniman yang akan selalu dikenang dan menjadi kiblat para maestro seni budaya lokal (pangiyongan).






Pementasan dengan tiketing dilaksanakan berkolaborasi dengan musik dangdut klasik, yang juga berasal dari komunitas Titik Kumpul ayah. Meskipun dalam suasana gerimispementasan Titik Kumpul masih menarik perhatian masyarakat, terbukti pada malam tersebut  pementasan disaksikan puluhan pecinta seni pertunjukan di Kebumen.