Senin, 15 April 2019

DANYANG WATULAWANG

TARI CEPETAN PUTRI


Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen, resmi melaunching Tari Danyang Watulawang, Sabtu malam 21 April 2018. Launching tersebut digelar bersamaan dengan Pementasan Teater Ego berjudul "Terdampar" di Aula PGRI Kebumen.  

Tari yang terinspirasi daru seni dangsak itu diluncurkan oleh Ketua DKD Kebumen, Pekik Sat Siswonirmolo. Hadir pada acara tersebut Staf Ahli Bupati RAI Ageng Susilo Handoko, serta para seniman dan budayawan Kebumen. 

Pekik Sat Siswonirmolo, menuturkan hadirnya Tari Danyang Watulawang diharapkan bisa memperkaya khasanah kesenian khas Kebumen. "Tari Danyang Watulawang merupakan hasil kreasi dari Sanggar Seni "Sesanti Bumi" Kebumen," ujar Pekik Sat Siswonirmolo, disela-sela launching.  

Ia menjelaskan, tarian tersebut merupakan hasil kreasi tiga koreografer alumni Universitas Negeri Semarang (Unes). Yakni Esti Kurniawati, Ari Setyawati, Vera Setia Pratama. Ketiganya sekaligus  menarikan hasil kreasinya bersama dua penari lainnya, yaitu Putri dan Risma.

Tari Danyang Watulawang diinspirasikan dari seni Dangsak atau dikenal juga dengan nama tari Cepetan, yang merupakan tarian tradisional Kebumen. Tarian ini dikenal secara turun temurun di beberapa desa di Kebumen, antara lain Desa Watulawang Kecamatan Pejagoan. Selain merupakan karya adiluhung para leluhur, seni Dangsak juga mengandung nilai-nilai heroik dan patriotisme dalam menjaga keutuhan wilayah Indonesia.

Pada masa kolonialisme Belanda, kawasan pegunungan di Kebumen utara merupakan wilayah yang menjadi sasaran para onderneming (mandor) Belanda, meluaskan wilayah perkebunan untuk memperkaya bangsa penjajah. Dimunculkannya Dangsak di masa itu adalah untuk menakut-nakuti para mandor Belanda, sehingga akhirnya mereka gagal memperluas perkebunannya ke wilayah Kebumen utara.

Namun dari sisi artistik, seni Dangsak dinilai beberapa pihak kurang bisa "dijual", khususnya di dunia entertaintment. Masalah ini kerap menjadi topik perbincangan di kalangan seniman dan budayawan yang sering berkumpul di Rumah Budaya "Bumi Bimasakti" Kauman, Kebumen.

Dari berbagai perbincangan tersebut membuat tiga koreografer perempuan dari Sanggar Seni "Sesanti Bumi", yakni Esti Kurniawati, Ari Setyawati dan Vera Setia Pratama tertantang untuk menguji kemampuannya. Ketiganya mencoba mengolah dan mengemas kembali gerakan tari Cepetan agar bisa lebih artistik dan memiliki "nilai jual".

Hal inilah yang kemudian memunculkan ide lahirnya tari Danyang Watulawang. Jika tari Dansak atau Cepetan penarinya laki-laki semua, maka tari Danyang Watulawang penarinya perempuan semua.(*)

KETHOPRAK DANGSAK

REKSA MUSTIKA BUMI
Bertepatan dengan Hari Ibu di akhir tahun 2014, Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen menggelar pentas kolaborasi Ketoprak Dangsak dengan lakon ‘Reksa Mustika Bumi’, di Aula Setda Kebumen, Senin (22/12) malam.
Kethoprak Dangsak di Aula Setda Kebumen
Pementasan ketoprak berdurasi hampir dua jam itu mengangkat tema kelestarian alam di tengah ancaman eksploitasi pertambangan. Pentas ditengah guyuran hujan Desember itu di hadiri oleh Wakil Bupati Djuwarni, Staf Ahli Bupati (SAB) Siti Kharisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Heri Setyanto, serta sejumlah tokoh masyarakat dan seniman di Kabupaten Kebumen.
Tak seperti pada pementasan ketoprak pada umumnya, Ketoprak Dangsak ini menggunakan naskah, seperti pada pementasan teater maupun sinetron. Naskah ditulis oleh Pekik Sat Siswonirmolo, sedangkan sutradara Basuki Hendro Prayitno, yang juga Ketua Umum DKD Kebumen. Pementasan apik itu didukung dengan iringan gending yang digawangi oleh Bambang Budiono, yang juga seorang dalang asal Jatijajar.
Pementasan didukung sekitar 42 pemain, terdiri dari pelaku seni tradisi cepetan dari Desa Watulawang, teater Gerak IAINU Kebumen, grup seni Lengger Jatijajar, Sekolah Rakyat MeluBae dan beberapa pengurus DKD Kebumen sendiri. Grup kesenian lengger ini juga mengampu iringan gamelan dari SMP Tamansiswa sepanjang durasi pementasan yang dikolaborasikan dengan jimbe dan perkussi.
Sejumlah pemain ketoprak yang terlibat pada pementasan itu, Wuryanto (Diparbud), Murdiono Mancung (PNS Kecamatan Prembun), Harnoto Aji (Kepala SMA Negeri Karanganyar), Ari Susanto (Karyawan Bank Jateng), Sahid Elkobar (Teater Gerak). Selanjutnya, Agus Budiono (Guru SMP Karanggayam), Pipin Damayanti (PNS Guru), Darmawan Riyadi (profesional), Saeful (Teater Gerak), Pekik Sat Siswonirmolo (Pengurus DKD), Pitra Suwita (Pengurus DKD), John Silombo (Pesulap), Marikun Bahtiar (Pesulap), dan  Achmad Marzoeki (Birokrat).
Penulis naskah, Pekik Sat Siswonirmolo, mengatakan lakon “Reksa Mustika Bumi” sendiri membeberkan pertarungan kepentingan rezim kekuasaan yang bernafsu menguasai dan mengeksploitasi sumber daya alam dengan berdalih kesejahteraan rakyat sekitar. Lakon ‘Reksa Mustika Bumi’ yang bercerita tentang keteguhan ‘local-genius’ dalam melindungi ekologi bumi, dipaksa berhadapan dengan tren modal mengincar kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.
“Lakon ini menjadi menarik karena konteksnya terhadap situasi kontemporer, dimana kasus kekerasan mewarnai resistensi masyarakat adat versus segala bentuk ancaman, terutama serbuan pertambangan terhadap penghancuran lingkungannya,” ujar pria yang juga guru PNS di SMP Negeri 2 Kutowinangun.
Pekik menambahkan, simbolisasi tradisi cepet (dangsak) pada pementasan itu mewakili perwujudan nilai-nilai kearifan lokal yang secara teguh dipelihara oleh Ki Wicaksono (Wuryanto) bersama para pengikutnya. Batas akhir dari keteguhan pemeliharaan adalah saat kepentingan rezim kekuasaan dengan mengandalkan patron hierarki menekan dan memporak-porandakan segala tatanan lokal.
“Inilah hakekat antagonisme sosial yang jadi realitas obyektif dimana-mana saat-saat ini,” tutupnya. 
Kethoprak Dangsak di Panggung Budaya PRPP Jawa Tengah



SENI CEPETAN


SENI CEPETAN 


Sampai dengan tahun 2012 kesenian Cepetan belum masuk dalam  daftar jenis kesenian di Dinas Perhubungan Komunikasi & Informasi Kabupaten Kebumen.
 Melalui Sarasehan Budaya tahun 2014 yang diselenggarakan di Aula DPRD Kabupaten Kebumen pada , Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen merekomendasikan seni Cepetan sebagai ikon kesenian asli Kebumen.  Untuk menguatkan rekomendasi tersebut DKD Kebumen beberapa kali menyelenggarakan  pementasan cepetan alas pada berbagai even, baik di Alun-alun Kebumen, ataupun di dalam gedung pertunjukan.

Diawali dengan mementaskan seni Cepetan pada acara Muhibah Seni 2013 di Alun-Alun Kebumen, dengan judul Laskar Lukulo. Kemudian pada Minggu (19/10/2014) kesenian tradisional asli Kebumen tersebut digelar setelah usai Car Free Day Minggu, 19 Oktober 2014. Ketua DKD, Pekik Sat Siswonirmolo MPd menyatakan, pementasan cepetan alas itu digelar dalam rangka memeriahkan Gempita Borobudur bertajuk Cepetan Sewu.
Pertunjukan Seni Cepetan selanjutnya pada Senin 22 Desember 2014 dalam bentuk kolaborasi Kethoprak Dangsak di Aula Setda Kebumen dan 29 Agustus 2016 dab juga Kethoprak Dangsak di Panggung  budaya PRPP Jawa Tengah dengan lakon Reksa mustika Bumi
Seni Cepetan oleh Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Kebumen, direkomendasikan sebagai Ikon Kesenian Asli Kebumen pada Sarasehan Budaya tanggal 10 Oktober 2014 di Aula DPRD Kebumen. Sebagai langkah selanjutnya DKD melakukan penelusurandan pengumpulan data tentang keberadaan seni Cepetan di Kebumen.



Dari hasil wawancara Aris Panji dengan almarhum Mbah Roeslan, selaku tokoh masyarakat sesepuh kesenian Cepetan di Kajoran yang juga juru kunci makam mbah Agung Kajoran Karanggayam seusai acara Arisan Teater di Balai Kelurahan Kebumen tahun 2010, diperoleh penjelasan bahwa :
Kesenian Cepetan pada awalnya merupakan seni arak-arakkan penyerta pada perayaan-perayaan pesta rakyat atau arak-arakkan seperti “merti desa” (bersih desa), dan perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia.
Cepetan berkembang di wilayah utara Kebumen khususnya Karanggayam di kawasan onderneming (perkebunan luas yang dikuasai Hindia Belanda).
Muncul sebagai bentuk perlawanan non fisik, rakyat di Karanggayam dalam mengusir onderneming (Hindia Belanda) dengan membuat topeng menakutkan terbuat dari kayu randu, kayu pule dan kayu cangkring, yang mudah dibentuk.
Topeng dibentuk menjadi sosok yang menakutkan dengan disertai ijug sebagai rambutnya.
Topeng-topeng tersebut dipergunakan secara mengejutkan untuk menakut-nakuti pemilik onderneming sehingga mereka ketakutan dan merasa tidak kerasan berada di sana dengan  menyebutnya sebagai wilayah angker.
Pada akhirnya diharapkan dengan rasa ketakutan tersebut mereka pergi meninggalkan wilayah onderneming.
Pembuatan topeng sendiri bukan sekedar mengukir namun melibatkan ritual tertentu dengan jenis kayu tertentu di wilayah tertentu yang diyakini memiliki kekuatan magis.
Pada perkembangannya, Cepetan dikembangkan menjadi seni tari tradisional yang awalnya diiringi dengan suara kenthongan dan kaleng sehingga disebut dengan kesenian “Dangsak” atau “Tongbreng”. Saat sekarang Seni Cepetan telah diiringi dengan Gamelan (simbal, bedhug, saron) seperti pada kesenian Ebleg.
Penjelasan Mbah Ruslan ini tahun 2013 dibenarkan oleh Dawintana (73), sesepuh Paguyuban Budaya Pertapan Tunggal Randu Budaya Dusun Kebon, Desa Watulawang, Kecamatan Pejagoan. Dawintana merupakan generasi ketiga pelestari Cepetan di desanya. Senada dengan  pernyataan Mustarja (69), sesepuh Pertapan Tunggal Paguyuban Prajineman Tri Tunggal Dusun Perkutukan, Desa Peniron, Kecamatan Pejagoan.