Senin, 15 April 2019

DANYANG WATULAWANG

TARI CEPETAN PUTRI


Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen, resmi melaunching Tari Danyang Watulawang, Sabtu malam 21 April 2018. Launching tersebut digelar bersamaan dengan Pementasan Teater Ego berjudul "Terdampar" di Aula PGRI Kebumen.  

Tari yang terinspirasi daru seni dangsak itu diluncurkan oleh Ketua DKD Kebumen, Pekik Sat Siswonirmolo. Hadir pada acara tersebut Staf Ahli Bupati RAI Ageng Susilo Handoko, serta para seniman dan budayawan Kebumen. 

Pekik Sat Siswonirmolo, menuturkan hadirnya Tari Danyang Watulawang diharapkan bisa memperkaya khasanah kesenian khas Kebumen. "Tari Danyang Watulawang merupakan hasil kreasi dari Sanggar Seni "Sesanti Bumi" Kebumen," ujar Pekik Sat Siswonirmolo, disela-sela launching.  

Ia menjelaskan, tarian tersebut merupakan hasil kreasi tiga koreografer alumni Universitas Negeri Semarang (Unes). Yakni Esti Kurniawati, Ari Setyawati, Vera Setia Pratama. Ketiganya sekaligus  menarikan hasil kreasinya bersama dua penari lainnya, yaitu Putri dan Risma.

Tari Danyang Watulawang diinspirasikan dari seni Dangsak atau dikenal juga dengan nama tari Cepetan, yang merupakan tarian tradisional Kebumen. Tarian ini dikenal secara turun temurun di beberapa desa di Kebumen, antara lain Desa Watulawang Kecamatan Pejagoan. Selain merupakan karya adiluhung para leluhur, seni Dangsak juga mengandung nilai-nilai heroik dan patriotisme dalam menjaga keutuhan wilayah Indonesia.

Pada masa kolonialisme Belanda, kawasan pegunungan di Kebumen utara merupakan wilayah yang menjadi sasaran para onderneming (mandor) Belanda, meluaskan wilayah perkebunan untuk memperkaya bangsa penjajah. Dimunculkannya Dangsak di masa itu adalah untuk menakut-nakuti para mandor Belanda, sehingga akhirnya mereka gagal memperluas perkebunannya ke wilayah Kebumen utara.

Namun dari sisi artistik, seni Dangsak dinilai beberapa pihak kurang bisa "dijual", khususnya di dunia entertaintment. Masalah ini kerap menjadi topik perbincangan di kalangan seniman dan budayawan yang sering berkumpul di Rumah Budaya "Bumi Bimasakti" Kauman, Kebumen.

Dari berbagai perbincangan tersebut membuat tiga koreografer perempuan dari Sanggar Seni "Sesanti Bumi", yakni Esti Kurniawati, Ari Setyawati dan Vera Setia Pratama tertantang untuk menguji kemampuannya. Ketiganya mencoba mengolah dan mengemas kembali gerakan tari Cepetan agar bisa lebih artistik dan memiliki "nilai jual".

Hal inilah yang kemudian memunculkan ide lahirnya tari Danyang Watulawang. Jika tari Dansak atau Cepetan penarinya laki-laki semua, maka tari Danyang Watulawang penarinya perempuan semua.(*)

KETHOPRAK DANGSAK

REKSA MUSTIKA BUMI
Bertepatan dengan Hari Ibu di akhir tahun 2014, Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen menggelar pentas kolaborasi Ketoprak Dangsak dengan lakon ‘Reksa Mustika Bumi’, di Aula Setda Kebumen, Senin (22/12) malam.
Kethoprak Dangsak di Aula Setda Kebumen
Pementasan ketoprak berdurasi hampir dua jam itu mengangkat tema kelestarian alam di tengah ancaman eksploitasi pertambangan. Pentas ditengah guyuran hujan Desember itu di hadiri oleh Wakil Bupati Djuwarni, Staf Ahli Bupati (SAB) Siti Kharisah, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Heri Setyanto, serta sejumlah tokoh masyarakat dan seniman di Kabupaten Kebumen.
Tak seperti pada pementasan ketoprak pada umumnya, Ketoprak Dangsak ini menggunakan naskah, seperti pada pementasan teater maupun sinetron. Naskah ditulis oleh Pekik Sat Siswonirmolo, sedangkan sutradara Basuki Hendro Prayitno, yang juga Ketua Umum DKD Kebumen. Pementasan apik itu didukung dengan iringan gending yang digawangi oleh Bambang Budiono, yang juga seorang dalang asal Jatijajar.
Pementasan didukung sekitar 42 pemain, terdiri dari pelaku seni tradisi cepetan dari Desa Watulawang, teater Gerak IAINU Kebumen, grup seni Lengger Jatijajar, Sekolah Rakyat MeluBae dan beberapa pengurus DKD Kebumen sendiri. Grup kesenian lengger ini juga mengampu iringan gamelan dari SMP Tamansiswa sepanjang durasi pementasan yang dikolaborasikan dengan jimbe dan perkussi.
Sejumlah pemain ketoprak yang terlibat pada pementasan itu, Wuryanto (Diparbud), Murdiono Mancung (PNS Kecamatan Prembun), Harnoto Aji (Kepala SMA Negeri Karanganyar), Ari Susanto (Karyawan Bank Jateng), Sahid Elkobar (Teater Gerak). Selanjutnya, Agus Budiono (Guru SMP Karanggayam), Pipin Damayanti (PNS Guru), Darmawan Riyadi (profesional), Saeful (Teater Gerak), Pekik Sat Siswonirmolo (Pengurus DKD), Pitra Suwita (Pengurus DKD), John Silombo (Pesulap), Marikun Bahtiar (Pesulap), dan  Achmad Marzoeki (Birokrat).
Penulis naskah, Pekik Sat Siswonirmolo, mengatakan lakon “Reksa Mustika Bumi” sendiri membeberkan pertarungan kepentingan rezim kekuasaan yang bernafsu menguasai dan mengeksploitasi sumber daya alam dengan berdalih kesejahteraan rakyat sekitar. Lakon ‘Reksa Mustika Bumi’ yang bercerita tentang keteguhan ‘local-genius’ dalam melindungi ekologi bumi, dipaksa berhadapan dengan tren modal mengincar kekayaan alam yang terkandung di dalamnya.
“Lakon ini menjadi menarik karena konteksnya terhadap situasi kontemporer, dimana kasus kekerasan mewarnai resistensi masyarakat adat versus segala bentuk ancaman, terutama serbuan pertambangan terhadap penghancuran lingkungannya,” ujar pria yang juga guru PNS di SMP Negeri 2 Kutowinangun.
Pekik menambahkan, simbolisasi tradisi cepet (dangsak) pada pementasan itu mewakili perwujudan nilai-nilai kearifan lokal yang secara teguh dipelihara oleh Ki Wicaksono (Wuryanto) bersama para pengikutnya. Batas akhir dari keteguhan pemeliharaan adalah saat kepentingan rezim kekuasaan dengan mengandalkan patron hierarki menekan dan memporak-porandakan segala tatanan lokal.
“Inilah hakekat antagonisme sosial yang jadi realitas obyektif dimana-mana saat-saat ini,” tutupnya. 
Kethoprak Dangsak di Panggung Budaya PRPP Jawa Tengah



SENI CEPETAN


SENI CEPETAN 


Sampai dengan tahun 2012 kesenian Cepetan belum masuk dalam  daftar jenis kesenian di Dinas Perhubungan Komunikasi & Informasi Kabupaten Kebumen.
 Melalui Sarasehan Budaya tahun 2014 yang diselenggarakan di Aula DPRD Kabupaten Kebumen pada , Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen merekomendasikan seni Cepetan sebagai ikon kesenian asli Kebumen.  Untuk menguatkan rekomendasi tersebut DKD Kebumen beberapa kali menyelenggarakan  pementasan cepetan alas pada berbagai even, baik di Alun-alun Kebumen, ataupun di dalam gedung pertunjukan.

Diawali dengan mementaskan seni Cepetan pada acara Muhibah Seni 2013 di Alun-Alun Kebumen, dengan judul Laskar Lukulo. Kemudian pada Minggu (19/10/2014) kesenian tradisional asli Kebumen tersebut digelar setelah usai Car Free Day Minggu, 19 Oktober 2014. Ketua DKD, Pekik Sat Siswonirmolo MPd menyatakan, pementasan cepetan alas itu digelar dalam rangka memeriahkan Gempita Borobudur bertajuk Cepetan Sewu.
Pertunjukan Seni Cepetan selanjutnya pada Senin 22 Desember 2014 dalam bentuk kolaborasi Kethoprak Dangsak di Aula Setda Kebumen dan 29 Agustus 2016 dab juga Kethoprak Dangsak di Panggung  budaya PRPP Jawa Tengah dengan lakon Reksa mustika Bumi
Seni Cepetan oleh Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Kebumen, direkomendasikan sebagai Ikon Kesenian Asli Kebumen pada Sarasehan Budaya tanggal 10 Oktober 2014 di Aula DPRD Kebumen. Sebagai langkah selanjutnya DKD melakukan penelusurandan pengumpulan data tentang keberadaan seni Cepetan di Kebumen.



Dari hasil wawancara Aris Panji dengan almarhum Mbah Roeslan, selaku tokoh masyarakat sesepuh kesenian Cepetan di Kajoran yang juga juru kunci makam mbah Agung Kajoran Karanggayam seusai acara Arisan Teater di Balai Kelurahan Kebumen tahun 2010, diperoleh penjelasan bahwa :
Kesenian Cepetan pada awalnya merupakan seni arak-arakkan penyerta pada perayaan-perayaan pesta rakyat atau arak-arakkan seperti “merti desa” (bersih desa), dan perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia.
Cepetan berkembang di wilayah utara Kebumen khususnya Karanggayam di kawasan onderneming (perkebunan luas yang dikuasai Hindia Belanda).
Muncul sebagai bentuk perlawanan non fisik, rakyat di Karanggayam dalam mengusir onderneming (Hindia Belanda) dengan membuat topeng menakutkan terbuat dari kayu randu, kayu pule dan kayu cangkring, yang mudah dibentuk.
Topeng dibentuk menjadi sosok yang menakutkan dengan disertai ijug sebagai rambutnya.
Topeng-topeng tersebut dipergunakan secara mengejutkan untuk menakut-nakuti pemilik onderneming sehingga mereka ketakutan dan merasa tidak kerasan berada di sana dengan  menyebutnya sebagai wilayah angker.
Pada akhirnya diharapkan dengan rasa ketakutan tersebut mereka pergi meninggalkan wilayah onderneming.
Pembuatan topeng sendiri bukan sekedar mengukir namun melibatkan ritual tertentu dengan jenis kayu tertentu di wilayah tertentu yang diyakini memiliki kekuatan magis.
Pada perkembangannya, Cepetan dikembangkan menjadi seni tari tradisional yang awalnya diiringi dengan suara kenthongan dan kaleng sehingga disebut dengan kesenian “Dangsak” atau “Tongbreng”. Saat sekarang Seni Cepetan telah diiringi dengan Gamelan (simbal, bedhug, saron) seperti pada kesenian Ebleg.
Penjelasan Mbah Ruslan ini tahun 2013 dibenarkan oleh Dawintana (73), sesepuh Paguyuban Budaya Pertapan Tunggal Randu Budaya Dusun Kebon, Desa Watulawang, Kecamatan Pejagoan. Dawintana merupakan generasi ketiga pelestari Cepetan di desanya. Senada dengan  pernyataan Mustarja (69), sesepuh Pertapan Tunggal Paguyuban Prajineman Tri Tunggal Dusun Perkutukan, Desa Peniron, Kecamatan Pejagoan.




Kamis, 28 Maret 2019

JEMBLUNG LAKON KERTINEGARA SRUNI PENTAS DI TMII

Duta Seni dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen foto bersama seusai gladi resik pementasan Jemblung Kolaborasi  Lakon Tumenggung Kertinegara dari babad Sruni Kebumen, di Aula Dinas Pendidikan Kebumen (26/3)
Duta Seni dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen bakal mementaskan Lakon Tumenggung Kertinegara dari babad Sruni Kebumen, di Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, pada Minggu, 31 Maret 2019.

Duta Seni dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen foto bersama seusai gladi resik pementasan Jemblung Kolaborasi  Lakon Tumenggung Kertinegara dari babad Sruni Kebumen, di Aula Dinas Pendidikan Kebumen (26/3)
Pementasan yang dikemas dalam bentuk kesenian Jemblung tersebut oleh BE Susilohadi S.Pd dikolaborasikan dengan seni drama tari sehingga menjadi suguhan pementasan yang menarik untuk ditonton.
Kesenian jemblung sendiri sebenarnya merupakan seni tradisi lisan yang merupakan kesenian asli Kebumen. Namun sayangnya kesenian tersebut sudah mulai dilupakan oleh masyarakat Kebumen. Bahkan banyak diantara mereka yang sama sekali sudah tidak mengenal lagi seperti apa bentuk kesenian jemblung.
BE Susilohadi, Kasi Kebudayaan Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen berusaha mengangkat kembali kesenian jemblung yang sudah tidak begitu dikenal dengan mengkolaborasikan dengan seni  tradisional yang lain seperti  Tari Cepetan, Tari Ebleg, Kethoprak, Tari Gambyong Kebing dan Tari Wira Pertiwi dalam komposisi drama tari. 

Penari Putri Duta Seni dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen saat gladi resik pementasan Jemblung Kolaborasi  Lakon Tumenggung Kertinegara dari babad Sruni Kebumen, di Aula Dinas Pendidikan Kebumen (26/3)

Kesungguhan BE Susilohadi dalam garapan tersebut terlihat dari dilibatkanya  Jemblung  dari Sanggar Seni Wisma Budaya Puring  dan beberapa pelaku seni tradisional senior yang sudah cukup berpengalaman berkecimpung didalam kesenian tradisional di Kebumen. Mereka itu antara lain Gim Warjito, S.Pd,M.Pd, Widodo S.Sn, Bambang Sis. S.Pd. Pardiman, Genjik Suratno, Bagiyo, Eko Haryono SE, Doyok Ramelan, Ami Ratminah,  Endang Purwatiningsih, S.Pd .dan sinden Sulastri. Dalam garapan tersebut juga dilibatkan pelaku seni teater Pekik Sat Siswonirmolo dan Putut Akhmad Su’adi S.Hum.

Pada pementasan tersebut didukung oleh 116 personil, yang terdiri dari seniman Jamjaneng, seniman Jemblung, seniman karawitan, seniman kethoprak, seniman teater, penari putra , penari putri dan, seniman penata setting panggung.
“Pementasan  di Anjungan Jawa Tengah TMII nanti akan diawali dengan penampilan Jamjaneng, yang kemudian dilanjutkan dengan pagelaran  Jemblung Kolaborasi yang didukung oleh para seniman-seniman senior. Sehingga  diharapkan pementasan duta seni tahun ini akan lebih baik, lebih menarik dari tahun-tahun sebelumnya,” kata BE Susilohadi selaku sutradara saat gladi bersih (26/3)
BE Susilohadi menambahkan bahwa  lakon Tumenggung Kertinegara diambil dari Babad Sruni, merupakan kisah kepahlawanan Tumenggung Kertinegara, ketika berusaha memperingatkan tindak  kesewenang-wenangan Sultan Amangkurat Agung saat berkuasa di Mataram. Kisah Tumenggung Kertinegara sarat dengan konflik kemanusiaan, yang dapat diselesaikan dengan sangat bijaksana oleh Tumenggung Kertinegara dari Sruni.


Penari Putra Duta Seni dari Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen saat gladi resik pementasan Jemblung Kolaborasi  Lakon Tumenggung Kertinegara dari babad Sruni Kebumen, di Aula Dinas Pendidikan Kebumen (26/3)
Korwil Bidik Rowokele Gim Warjito pelaku seni yang turut mendukung pagelaran tersebut  mengatakan Selaku pelaku seni mengapresiasi secara maksimal pagelaran di Taman Mini Indonesia Indah dengan lakon Kertinegara , karena hal tersebut akan menguatkan eksistansi Kabupaten Kebumen. Terutama dengan menggarap seni tradisi. Karena seni tradisi merupakan elemen penting dalam garapan sumberdaya manusia dalam rangka membangun manusia seutuhnya. Segmen seni tradisi ada di seluruh lapisan masyarakat.  Melalui tahapan kontemplasi wawasan kesenian harus bisa menyentuh hati manusia yang paling dalam.  Kontemplasi dalam seni adalah hening ke masa lalu, masa lalu yang berkaitan dengan seni, karena seni adalah kesan yang indah. Masa lalu tidak indah bila tidak dikaitkan dengan seni, salah satu seni yang berkitan dengan masa lalu diantaranya adalah seni tradisi, maka untuk menggarap sumber daya manusia khususnya generasi muda tidak boleh melupakan seni tradisi yang adiluhung. Seni tradisi tidak boleh hilang dari tata kehidupan masyarakat.


Kabid PDK Dinas Pendidikan Kabupaten Kebumen, Aminah, S.Pd,MM seusai menyaksikan gladi bersih menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya pada seluruh pemain, meskipun masih ada beberapa kekurangan dalam hal keharmonisan keselarasan gerak tari dengan iringan gamelan, tetapi secara umum sudah baik, indikatornya adalah ketika pementasan itu berhasi membawa penonton dalam suasana yang menyentuh perasaan dan  klimaknya sudah bisa membuat penonton merinding itu berati berhasil . Selanjutnya Aminah, S.Pd,MM  optimis pada pementasan di TMII nanti akan dapat terlaksana dengan lebih baik.

Rabu, 27 Maret 2019

SENIMAN-SENIMAN KAWAKAN KEBUMEN DUKUNG PEMENTASAN DI TMII

Lakon Tumenggung Kertinegara dari babad Sruni Kebumen, bakal di pentaskan Duta Seni Kabupaten Kebumen di Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, pada Minggu, 31 Maret 2019. Pada pementasan tersebut didukung oleh 50 personil, yang terdiri dari seniman Jamjaneng, seniman
Jemblung, seniman karawitan, seniman kethoprak, seniman teater, penari putra dan penari putri.

Gim Warjito, S.Pd,M.Pd, Pardiman, Genjik Suratno,  Doyok Ramelan mendukung Duta Kesenian Kebumen Ke Anjungan Jawa Tengah TMII pada pagelaran Minggu 31 Maret 2019
Yang menarik ada beberapa seniman kawakan yang sudah cukup berpengalaman berkecimpung didalam kesenian tradisional di Kebumen, turut terlibat mendukung pementasan yang dikemas dalam bentuk kesenian Jemblung  dengan berkolaborasi dengan drama tari tersebut . Mereka itu diantaranya Gim Warjito, S.Pd,M.Pd, Widodo S.Sn, Bambang Sis. S.Pd. Pardiman, Genjik Suratno, Subagyo, Eko Haryono SE, Doyok Ramelan, Ami Ratminah,  Endang Purwatiningsih, S.Pd .dan sinden Sulastri. Dalam garapan tersebut juga dilibatkan pelaku seni teater Pekik Sat Siswonirmolo dan Putut Akhmad Su’adi S.Hum.

Menurut BE Susilohadi Selaku sutradara pementasan saat gladi acara, dengan dukungan dari para seniman-seniman senior tersebut, diharapkan pementasan duta seni tahun ini akan lebih baik, lebih menarik dari tahun-tahun sebelumnya.

Berdasarkan dari pengakuan para seniman itu disela-sela saat latihan di Aula Dinas Pendidikan Kebumen, diantaranya Pardiman seniman kethoprak kawakan dari Sitiadi Puring mengatakan selaku seniman, telah main kethoprak, sejak tahun 1972 setamat sekolah STM. Pardiman dalam bermain kethoprak dikenal lebih sering berperan sebagai tokoh antagonis.
Kemudian Gim Warjito dari Harjodawa Kuwarasan telah main Kethoprak sejak tahun 1982, setamat SPG.
Gim Warjito yang saat ini menjabat Korwil Bidik Rowokele menambahkan bahwa menjadi pemain kethoprak karena terinspirasi pada permainan kethoprak Pardiman yang berperan sebagai tokoh antagonis di Puring, pada saat berperan sebagai Tapak Deruk pada lakon Pedang Pusaka Gunung Arcapala.

Lebih lanjut Gim Warjito mengatakan Selaku pelaku seni mengapresiasi secara maksimal pagelaran di Taman Mini Indonesia Indah yang akan menunjukkan eksistansi Kabupaten Kebumen. Terutama dengan menggarap seni tradisi. Karena seni tradisi merupakan elemen penting dalam garapan sumberdaya manusia dalam rangka membangun manusia seutuhnya. Segmen seni tradisi ada di seluruh lapisan masyarakat.  Melalui tahapan kontemplasi wawasan kesenian harus bisa menyentuh hati manusia yang paling dalam.  Kontemplasi dalam seni adalah hening ke masa lalu, masa lalu yang berkaitan dengan seni, karena seni adalah kesan yang indah, masa lalu tidak indah bila tidak dikaitkan dengan seni, salah satu seni yang berkitan dengan masa lalu diantaranya adalah seni tradisi, maka untuk menggarap sumber daya manusia khususnya generasi muda tidak boleh melupakan seni tradisi. Seni tradisi tidak boleh hilang dari tata kehidupan masyarakat.




Minggu, 03 Maret 2019

Pementasan Titik Kumpul

Performance Titik Kumpul dari Kecamatan Ayah
Dalam Rangka penggalangan dana untuk Persiapan Pementasannya di Taiwan, komunitas Titik Kumpul dari kecamatan Ayah, pada Sabtu 23 Februari 2019 pukul 20.00,  melakukan pentas di Panggung Terbukan Diskominfo Kebumen. Pijar Sudiro dari Titik Kumpul mengatakan " Acara apresiasi seni dalam rangka persiapan mengikuti festival seni di Taiwan, Komunitas Titik Kumpul mengadakan pentas penggalangan dana."



Adapun sinopsis pementasan dengan judul Ha'Ra adalah sebagai berikut 
Ha’Ra
Berangkat dari kehadiran dan kiprah seorang seniman legendaris. Menggambarkan keteguhan dan keyakinan dalam menjaga jati diri kebudayaan lokal melaui seni pertunjukan. Perjuangan yang berdarah darah dalam merengkuh kesenian dan budaya lokal, baik di atas panggung maupun di luar panggung (kehidupan sosial) menjadi bagian yang diangkat sebagai alur dramatik karya “Ha’Ra”. Lahirnya karya “Ha’Ra” sekaligus adalah cerminan tentang penghargaan generasi muda terhadap nilai-nilai budaya lokal dan sejarahnya. Siapakah dia? Sosok wanita yang sederhana, lemah gemulai, berparas cantik, baik tutur kata dan sikapnya; Cablaka (Seblaka Sesutane). Segala tentangnya,  menjadikan ia sosok seniman yang akan selalu dikenang dan menjadi kiblat para maestro seni budaya lokal (pangiyongan).






Pementasan dengan tiketing dilaksanakan berkolaborasi dengan musik dangdut klasik, yang juga berasal dari komunitas Titik Kumpul ayah. Meskipun dalam suasana gerimispementasan Titik Kumpul masih menarik perhatian masyarakat, terbukti pada malam tersebut  pementasan disaksikan puluhan pecinta seni pertunjukan di Kebumen.


Senin, 25 Februari 2019

DKD KEBUMEN MELOUNCHING KEBUMEN VIOLIN ORCHESTRA (KVO)



Penampilan Kebumen Violin Orchestra (KVO) saat Lounchi di Mixolie Hotel pada hari Minggu (24/2)
Bertempat di Maxolie Hotel Kebumen,  Minggu, 24 Februari  2019, Ketua Umum Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen, Pekik Sat Siswonirmolo melounching Kebumen Violin Orchestra (KVO), dengan acara pagelaran musik orchestra biola bertajuk Kebumen Violin Orchestra “Confident And Wise With Music”.
Loauching di Maxolie Hotel Kebumen tersebut dihadiri oleh puluhan tamu yang terdiri dari pengurus DKD Kebumen, Komunitas Sekolah Rakyat MeluBae (SRMB) Kebumen dan orang tua dari para anggota KVO.
Ketua Umum Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen, Pekik Sat Siswonirmolo saat melounching berharap KVO yang merupakan anak kandung DKD akan dapat semakin berkembang, dan dapat memberi warna pada kegiatan seni musik di Kebumen.
Penampilan Kebumen Violin Orchestra (KVO) saat Lounchi di Mixolie Hotel pada hari Minggu (24/2)
Menurut Taufik Ismail S.Pd. guru biola yang juga guru di SD Negeri 3 Sawangan Kuwarasan itu; Kebumen Violin Orchestra (KVO) merupakan sebuah kelompok musik dari divisi musik Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen, dengan format orchestra, yang anggotanya terdiri dari anak-anak, para instrumentalis biola hasil bimbingannya.
Selanjutnya Taufik Ismail S.Pd. yang merupakan pemain biola di Sekolah Rakyat MeluBae (SRMB) Kebumen menambahkan bahwa KVO yang bersekretariat di Perum Mega Biru 1 Jl.Cincin Kota no. 24 Karangsari Kebumen tersebut, merupakan tempat Sinau Ng-orchestranya Kebumen, yang ia dirikan guna memberi ruang pada anak-anak yang sedang dalam proses belajar biola, agar mereka dapat menerapkan ketrampilan bermain biola melalui sajian beragam jenis musik, mulai dari musik klasik, pop, latin dan dangdut. Juga mengiringi lagu daerah dan lagi-lagu nasional.
Tofik Ismail S.Pd. selaku Aranger KVO di Mexolie Hotel  Kebumen pada Minggu (24/2)


Taufik Ismail S.Pd. berharap anak-anak tersebut akan menjadi lebih terasah ketrampilannya dalam menggesek biola. Harapan kedepan keberadaanya KVO bisa diterima oleh masyarakat dan dilibatkan pada even-even yang diselenggarakan oleh Pemkab Kebumen, bahkan bisa menjadi kebanggaan masyarakat Kebumen dengan pemain-pemain biola muda yang handal. Sehingga akan ikut meramaikan geliat  seni musik di kota Beriman.

Pemain KVO semua masih anak-anak, bahkan ada yang masih berusia 7 tahun


Dalam acara tersebut ditampilkan 45 anak violin-violin muda yang berbakat yang mayoritas masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), bahkan yang termuda masih duduk di kelas 1 Sekolah Dasar. Mereka berasal dari beberapa kecamatan diwilayah Kebumen, seperti Kuwarasan, Gombong, Karnganyar, Sruweng, Adimulyo dan Kebumen.  

Toto Suryanto mendampingi KVO pada posisi vokal 


Menurut Ketua Panitia Eni Munfarida pada pagelaran tersebut  KVO didampingi oleh beberapa pemain band pendukung, seperti Toto Suryanto pada vocal, Widi Saxofon, Eri D’Flow pada gitar, Kipli pada bas, Nur Bulles drum, Hasbun pada piano, dan Mas Damar pada sound enginering.

Dengan amat baik mereka memainkan 6 lagu yang arasemennya digarapan Taufik Ismail, Pimpinan yang juga sekaligus berperan sebagai Aranger pada orchestra KVO. Keenam lagu tersebut adalah Cantik (Siti Badriyah) Symponie yang Indah (Once), Penasaran ( Rhoma Irama), Kopi Dangdut (Fahmi Sahap), Despacito (Luiz Fonzi) dan You Rias Me Up (Josh Groban). 

Selasa, 15 Januari 2019

SURAN EBLEG SINGO MATARAM DIBANJIRI RATUSAN PENONTON

GRUP EBLEG TERTUA DI KEBUMEN

Sudah menjadi tradisi, hampir disetiap grup kesenian tradisional yang ada di Kebumen, pada setiap bulan Sura, mereka menyelenggarakan Tradisi Gebyag Suran. Tak terkecuali juga pada grup Kesenian Tradisional Ebleg Singa Mataram Sedyatama Timbul.
Grup Ebleg yang juga disebut sebagai Ebleg Ruwat yang bersekretariat di belakang Kodim 0709 Panjer Kebumen ini, pada Selasa siang (02/10) menyelenggarakan pagelaran dalam rangka Suran, di Lapangan Makodim 0709 Kebumen.

Acara itu dibanjiri ratusan penonton, pecinta ebeg Kebumen. Dan yang menarik sebagian besar penonton yang datang adalah para muda remaja putra-putri, beberapa diantaranya bahkan datang masih mengenakan seragam sekolah, baik putih biru maupun putih Abu-abu.
Dengan banyaknya yang datang menyaksikan pementasan Suran Ebleg Singa Mataram dari kalangan muda remaja ini,  sungguh merupakan fenomena yang menggembirakan bagi perkembangan kesenian ebleg di Kebumen. Namun untuk lebih menambah daya tarik kesenian tradisional ebleg sebagai sebuah tontonan, dibutuhkan adanya dukungan sentuhan artistik, baik dari sisi koreografi, iringan musik , kostumnya maupun manajemen pementasan, dari para pelaku seni yang mumpuni.

Menurut keterangan ketua grup ebleg Singa Mataram Sigit Riyanto (52) yang didampingi sesepuh grup ebleg Singa Mataram Wiwit Suryono, Harsono dan Suwardi, bahwa grup ebleg Singa Mataram yang beranggotakan sekitar 20 orang yang terdiri dari 14 penari dan 6 penabuh ini sebenarnya merupakan grup ebleg yang sudah turun-temurun yang berdiri sejak tahun 1960. Grup ebleg yang awalnya bernama Sedyatama Timbul, diyakini sebagai grup ebleg tertua di Kebumen, pada waktu itu mengalami kelesuan atau mati suri, baru sekitar 8 tahun yang lalu mulai dihidupkan kembali. Sampai saat sekarang grup ini setidaknya bisa pentas antara 4 sampai 5 kali dalam satu tahun.

Menurut Sigit, biaya untuk acara Suran grup ebleg Singa Mataram yang sangat bersahaja tersebut, diambilkan dari kas grup ebleg Singa Mataram. Sigit menambahkan didalam melestarikan grup ini terkendala pada masalah regenerasi, dimana ada beberapa penari muda yang harus melanjutkan sekolah, ataupun yang harus bekerja di luar kota.

LOUNCHING PaSPerLu KEBUMEN

Pasar Sayuran Pereng Lukulo Kelurahan Kebumen



Camat Kebumen Ram Gunadi SH memberikan sambutan pembukaan PaSPerLu
Lounching Pasar Sayuran Pereng Lukulo  ( PaSPerLu) yang di prakasai oleh Komunitas Hidroponik dan Organik (KHO) kelurahan Kebumen ini terlihat berhasil dalam bergerak berbenah diri. 
Lurah Kebumen Dede Sutoro pada saat persiapan PaSPerLu



Terbukti ketika program PaSPerLu dilounching pada hari Jumat 21 Desember 2018, pukul 08.00 pagi secara keseluruhan penyajian lapak pameran, baik untuk sayuran hidroponik dan organik, maupun jajanan kuliner tradisional, tersaji dengan baik.
Lapak-lapak pasar di PaSPerlu tersebar sepanjang jalan di Gang Barokah




Pengunjung PaSPerLu di depan lapak kuliner tradisional dan tanaman organik SRMB


Pengunjung PaSPerLu di depan lapak kuliner tradisional dan tanaman organik SRMB

Lapak-lapak pasar di PaSPerlu tersebar sepanjang jalan di Gang Barokah yang terletak di belakang Rutan Kebumen, menyajikan berbagai bibit tanaman, aneka kerajinan daur ulang, sayuran hidroponik dan organik, serta aneka jajanan tradisional.


Panen perdana tanaman slada di Kuba KHO, oleh camat Kebumen Ram Gunadi SH











Acara lounchin diawali dengan panen perdana tanaman slada di Kuba KHO, oleh camat Kebumen Ram Gunadi SH, yang dilanjutkan dengan penjualan hasil panen perdana tersebut melalui stand Kuba KHO.
Hadir pada Acara lounching PaSPerLU Camat Kebumen Ram Gunadi SH, beserta jajaran Muspika kecamatan Kebumen,, dari Dinas Sosial, PPKB, Perwakilan Bank Jateng, Perkim LH, Lurah Kebumen Dede Suntoro,S.Sos, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama di Kebumen.
 “Kami menyelenggarakan pameran pada hari ini terdiri dari 7 stand KHO RW yang ada di kelurahan Kebumen, 1 stan Kelompok Usaha Bersama (Kuba), 3 stand Kuliner Komunitas Masak Kelurahan Kebumen, 1 stand bang Samiun, 1 stand dari Pengusaha, dan banyak kuliner jajanan tradisional dari masyarakat Kebumen. Kegiatan PaSPerLu akan berlangsung selama 3 hari yaitu dari hari Jumat 21 Desember sampai dengan Minggu 23 Desember 2018, mulai pukul 08.00 s/d pukul 16.00 WIB” kata Sugeng Haryono selaku ketua penyelenggara, pada saat acara lonching.bersama mendampingi Dede Suntoro S.Sos selaku Lurah Kebumen, dan Suwito selaku perangkat kelurahan Kebumen,di lokasi  penyelenggaraan PaSPerlu.


PaSPerLu juga dihibur dengan penyajian organt tunggal 
Menurut Dede Suntoro S.Sos selaku Lurah Kebumen, Pemerintahan Kelurahan Kebumen bersungguh-sungguh dalam pengelolaan sampah dan penataan lingkungan kelurahan. Ada banyak program unggulan yang di gagas oleh warga masyarakat kelurahan Kebumen di dukung penuh oleh Lurah dan perangkatnya, diantaranya, Sampah Untuk Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (Bank  Samiun), Sapu Bersih Pagi (SABER PAGI) dan Komunitas Hiroponik dan Organik (KHO). Dan yang baru saja di lounching adalah Pameran dan Pasar Sayuran Pereng Lukulo (PaSPerLu)

Dede Suntoro S.Sos menambahkan “ Antusiasme pengunjung pada lounching PaSPerlu sangat besar, karena dengan adanya pasar sayuran hidroponik dan organic hasil budi daya warga kelurahan Kebumen dan juga berbagai kuliner serta kerajinan dari warga kelurahan Kebumen, dari hasil daur ulang. Harapannya penyelenggaraan kegiatan semacam ini kedepan bisa membantu perekonomian warga kelurahan Kebumen pada umumnya.




Pengunjung PaSPerLu sedang menikmati kuliner tradisional

“ Pada penyelenggaraan acara launching PaSPerLu yang bebas terbuka untuk umum ini, pemerintahan Kelurahan Kebumen mendapat dukungan dari komunitas Sekolah Rakyat MeluBae (SRMB) Kebumen, Kedepan pameran ini tidak saja sebagai sarana pemasaran sayuran hidroponik dan organik saja, tetapi pasar sayuran yang direncanakan terselenggara setiap minggu ini nantinya juga sebagai wahana edukasi,  belajar menanam  bagi para pelajar dan komunitas muda terdidik di kabupaten Kebumen dan sekitarnya ” kata Suwito selaku perangkat Kelurahan Kebumen yang juga Pamong SRMB.
Pada acara tersebut ada sedikit kritikan dari Toro Mb salah seorang pengunjung
 “Sayangnya untuk pembungkus makanan jajanannya belum menggunakan daun, masih menggunakan plastik, sehingga masih menyisakan sampah plastik yang terlihat.Juga masalah ketersediaan tempat sampah yang belum mencukupi, ini barangkali harus menggandeng dinas terkait, seperti Dinas Perkim LH”.