Selasa, 15 Januari 2019

SURAN EBLEG SINGO MATARAM DIBANJIRI RATUSAN PENONTON

GRUP EBLEG TERTUA DI KEBUMEN

Sudah menjadi tradisi, hampir disetiap grup kesenian tradisional yang ada di Kebumen, pada setiap bulan Sura, mereka menyelenggarakan Tradisi Gebyag Suran. Tak terkecuali juga pada grup Kesenian Tradisional Ebleg Singa Mataram Sedyatama Timbul.
Grup Ebleg yang juga disebut sebagai Ebleg Ruwat yang bersekretariat di belakang Kodim 0709 Panjer Kebumen ini, pada Selasa siang (02/10) menyelenggarakan pagelaran dalam rangka Suran, di Lapangan Makodim 0709 Kebumen.

Acara itu dibanjiri ratusan penonton, pecinta ebeg Kebumen. Dan yang menarik sebagian besar penonton yang datang adalah para muda remaja putra-putri, beberapa diantaranya bahkan datang masih mengenakan seragam sekolah, baik putih biru maupun putih Abu-abu.
Dengan banyaknya yang datang menyaksikan pementasan Suran Ebleg Singa Mataram dari kalangan muda remaja ini,  sungguh merupakan fenomena yang menggembirakan bagi perkembangan kesenian ebleg di Kebumen. Namun untuk lebih menambah daya tarik kesenian tradisional ebleg sebagai sebuah tontonan, dibutuhkan adanya dukungan sentuhan artistik, baik dari sisi koreografi, iringan musik , kostumnya maupun manajemen pementasan, dari para pelaku seni yang mumpuni.

Menurut keterangan ketua grup ebleg Singa Mataram Sigit Riyanto (52) yang didampingi sesepuh grup ebleg Singa Mataram Wiwit Suryono, Harsono dan Suwardi, bahwa grup ebleg Singa Mataram yang beranggotakan sekitar 20 orang yang terdiri dari 14 penari dan 6 penabuh ini sebenarnya merupakan grup ebleg yang sudah turun-temurun yang berdiri sejak tahun 1960. Grup ebleg yang awalnya bernama Sedyatama Timbul, diyakini sebagai grup ebleg tertua di Kebumen, pada waktu itu mengalami kelesuan atau mati suri, baru sekitar 8 tahun yang lalu mulai dihidupkan kembali. Sampai saat sekarang grup ini setidaknya bisa pentas antara 4 sampai 5 kali dalam satu tahun.

Menurut Sigit, biaya untuk acara Suran grup ebleg Singa Mataram yang sangat bersahaja tersebut, diambilkan dari kas grup ebleg Singa Mataram. Sigit menambahkan didalam melestarikan grup ini terkendala pada masalah regenerasi, dimana ada beberapa penari muda yang harus melanjutkan sekolah, ataupun yang harus bekerja di luar kota.

LOUNCHING PaSPerLu KEBUMEN

Pasar Sayuran Pereng Lukulo Kelurahan Kebumen



Camat Kebumen Ram Gunadi SH memberikan sambutan pembukaan PaSPerLu
Lounching Pasar Sayuran Pereng Lukulo  ( PaSPerLu) yang di prakasai oleh Komunitas Hidroponik dan Organik (KHO) kelurahan Kebumen ini terlihat berhasil dalam bergerak berbenah diri. 
Lurah Kebumen Dede Sutoro pada saat persiapan PaSPerLu



Terbukti ketika program PaSPerLu dilounching pada hari Jumat 21 Desember 2018, pukul 08.00 pagi secara keseluruhan penyajian lapak pameran, baik untuk sayuran hidroponik dan organik, maupun jajanan kuliner tradisional, tersaji dengan baik.
Lapak-lapak pasar di PaSPerlu tersebar sepanjang jalan di Gang Barokah




Pengunjung PaSPerLu di depan lapak kuliner tradisional dan tanaman organik SRMB


Pengunjung PaSPerLu di depan lapak kuliner tradisional dan tanaman organik SRMB

Lapak-lapak pasar di PaSPerlu tersebar sepanjang jalan di Gang Barokah yang terletak di belakang Rutan Kebumen, menyajikan berbagai bibit tanaman, aneka kerajinan daur ulang, sayuran hidroponik dan organik, serta aneka jajanan tradisional.


Panen perdana tanaman slada di Kuba KHO, oleh camat Kebumen Ram Gunadi SH











Acara lounchin diawali dengan panen perdana tanaman slada di Kuba KHO, oleh camat Kebumen Ram Gunadi SH, yang dilanjutkan dengan penjualan hasil panen perdana tersebut melalui stand Kuba KHO.
Hadir pada Acara lounching PaSPerLU Camat Kebumen Ram Gunadi SH, beserta jajaran Muspika kecamatan Kebumen,, dari Dinas Sosial, PPKB, Perwakilan Bank Jateng, Perkim LH, Lurah Kebumen Dede Suntoro,S.Sos, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama di Kebumen.
 “Kami menyelenggarakan pameran pada hari ini terdiri dari 7 stand KHO RW yang ada di kelurahan Kebumen, 1 stan Kelompok Usaha Bersama (Kuba), 3 stand Kuliner Komunitas Masak Kelurahan Kebumen, 1 stand bang Samiun, 1 stand dari Pengusaha, dan banyak kuliner jajanan tradisional dari masyarakat Kebumen. Kegiatan PaSPerLu akan berlangsung selama 3 hari yaitu dari hari Jumat 21 Desember sampai dengan Minggu 23 Desember 2018, mulai pukul 08.00 s/d pukul 16.00 WIB” kata Sugeng Haryono selaku ketua penyelenggara, pada saat acara lonching.bersama mendampingi Dede Suntoro S.Sos selaku Lurah Kebumen, dan Suwito selaku perangkat kelurahan Kebumen,di lokasi  penyelenggaraan PaSPerlu.


PaSPerLu juga dihibur dengan penyajian organt tunggal 
Menurut Dede Suntoro S.Sos selaku Lurah Kebumen, Pemerintahan Kelurahan Kebumen bersungguh-sungguh dalam pengelolaan sampah dan penataan lingkungan kelurahan. Ada banyak program unggulan yang di gagas oleh warga masyarakat kelurahan Kebumen di dukung penuh oleh Lurah dan perangkatnya, diantaranya, Sampah Untuk Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (Bank  Samiun), Sapu Bersih Pagi (SABER PAGI) dan Komunitas Hiroponik dan Organik (KHO). Dan yang baru saja di lounching adalah Pameran dan Pasar Sayuran Pereng Lukulo (PaSPerLu)

Dede Suntoro S.Sos menambahkan “ Antusiasme pengunjung pada lounching PaSPerlu sangat besar, karena dengan adanya pasar sayuran hidroponik dan organic hasil budi daya warga kelurahan Kebumen dan juga berbagai kuliner serta kerajinan dari warga kelurahan Kebumen, dari hasil daur ulang. Harapannya penyelenggaraan kegiatan semacam ini kedepan bisa membantu perekonomian warga kelurahan Kebumen pada umumnya.




Pengunjung PaSPerLu sedang menikmati kuliner tradisional

“ Pada penyelenggaraan acara launching PaSPerLu yang bebas terbuka untuk umum ini, pemerintahan Kelurahan Kebumen mendapat dukungan dari komunitas Sekolah Rakyat MeluBae (SRMB) Kebumen, Kedepan pameran ini tidak saja sebagai sarana pemasaran sayuran hidroponik dan organik saja, tetapi pasar sayuran yang direncanakan terselenggara setiap minggu ini nantinya juga sebagai wahana edukasi,  belajar menanam  bagi para pelajar dan komunitas muda terdidik di kabupaten Kebumen dan sekitarnya ” kata Suwito selaku perangkat Kelurahan Kebumen yang juga Pamong SRMB.
Pada acara tersebut ada sedikit kritikan dari Toro Mb salah seorang pengunjung
 “Sayangnya untuk pembungkus makanan jajanannya belum menggunakan daun, masih menggunakan plastik, sehingga masih menyisakan sampah plastik yang terlihat.Juga masalah ketersediaan tempat sampah yang belum mencukupi, ini barangkali harus menggandeng dinas terkait, seperti Dinas Perkim LH”.

PAMERAN SENI RUPA BANGGA KEBUMEN

Rumah Budaya Bumi Bimasakti Kebumen


Bupati Kebumen Mohammad Yahya Fuad memberikan sambutan pada pembukaan Pameran Seni Rupa Bangga Kebumen di Rumah Budaya Bumi Bimasakti Kebumen
Bupati Kebumen Mohammad Yahya Fuad berkenan hadir membuka Pameran Seni Rupa yang berlangsung di di Rumah Budaya Bumi Bimasakti di Jalan Masjid 2 Nomor 19 Kauman Kebumen, Selasa (02/05/2017).
Pameran seni rupa “Bangga Kebumen” tersebut merupakan langkah awal para perupa Kebumen untuk berkonsolidasi dan ikut berkiprah dalam pembangunan di Kebumen, yang diselenggarakan Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Kebumen bekerja sama dengan Paguyuban Budaya dan Spiritual Cakra Buana.
Pameran diikuti perupa dengan beragam latar belakang pendidikan. Ada karya anak-anak SD, kerajinan tangan, lukisan cat minyak, sketsa, batik Kebumen, seni rupa logam sampai lukisan dengan cangkang telur. Kerajinan khas Kebumen juga ikut dipamerkan seperti beragam akik, kerajinan dari biji jenitri serta perangkat makan-minum dari batok kelapa. Bahkan pada saat pembukaan dimeriahkan juga dengan permainan sulap melukis dengan api dan keris berkepala bebek.
Dalam sambutannya Bupati Kebumen Mohammad Yahya Fuad memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para seniman dan budayawan Kebumen atas kegiatan tersebut.
Fuad mengungkapkan, dirinya sangat bangga dan mendukung kreativitas dari para pelaku seni di Kabupaten Kebumen. Karena mereka terus mendedikasikan dirinya untuk melestarikan sekaligus mewarnai seni budaya di Kebumen.
Kita sangat mengapresiasi kreativitas dari para seniman dan budayawan di Kebumen meskipun dengan masih banyaknya kekurangan fasilitas pendukung dari pemerintah, namun tidak menyurutkan semangat kreativitas para pelaku seni, papar Yahya Fuad.
Yahya Fuad berharap agar para seniman dan budayawan Kebumen bisa lebih bersinergi lagi dengan pemerintah kabupaten Kebumen dalam rangka meningkatkan sisi budaya dan pariwisata. 
Bupati Kebumen mengamati serang pelukis foto yang sedang beraksi
Kami harap para seniman dan budayawan di Kebumen, kedepan akan semakin bersinergi lagi dengan pemrintahan dalam rangka memajukan pariwisata Kebumen melalui sektor budaya dan kesenian, karena sektor budaya dan kesenian mempunyai peran penting dalam memajukan sektor pariwisata.
Yahya Fuad juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada  Rumah Budaya Bumi Bimasakti yang pada kesempatan kali ini tengah menggelar pameran seni rupa dalam upaya memperkenalkan budaya seni  rupa kepada masyarakat Kebumen dan dunia luar.

Senin, 14 Januari 2019

DWI WINDU SRMB

 DOPOKAN GAYENG MATON SENI PEDALANGAN KEBUMENAN
Seni Pedalangan di Kebumen ternyata memiliki gaya atau gagrag tersendiri, yang karakternya agak berbeda dengan seni pedalangan yang berkembang secara umun di Jawa atau bahkan di Indonesia. Secara umum kita mengenal ada seni pedalangan Gagrag Surakarta, Gagrag Yogyakarta, Gagrag Tegalan, Gagrag Banyumasan dan lain sebagainya.

Akan tetapi seni pedalangan Gagrag Kebumen, yang konon dianggap sebagai cikal bakalnya seni pedalangan gagrag banyumasan itu, justru kurang dikenal. Barangkali salah satu penyebabnya adalah tidak adanya kajian ilmiah atau penelitian ilmiah dan forum-forum yang secara intens berusaha membedah adanya seni pedalangan gagrag kebumenan.






Kondisi seperti ini perlu disikapi oleh berbagai elemen masyarakat Kebumen, dengan melakukan berbagai upaya untuk secara intens berusaha membedah adanya seni pedalangan gagrag kebumenan..
Dalam rangka menjawab persoalan tersebut maka, Sekolah Rakyat Melubae (SRMB) Kebumen  sebagai bagian dari elemen masyarakat Kebumen, pada acara ulang tahunnya yang ke-16, menyelenggarakan acara Rubungan Dopokan Gayeng Maton dengan tema Seni Pedalangan Kebumen bersama Ki Basuki Hendro Prayitno dalang sepuh dari Ambal Kebumen.
Darmawan Riyadi selaku ketua panitia penyelenggara menyampaikan “ Melalui acara yang diselenggarakan di Balai Kelurahan Kebumen pada Minggu malam (13/1) mulai pukul 20.00 wib tersebut diharapkan akan :
1.    Menyegarkan kembali ingatan kita akan adanya Seni Pedalangan, baik Wayang Kulit ataupun Wayang Golek Menak Gagrag Kebumen
2.    Tumbuhnya kebanggaan pada potensi seni pedalangan di Kebumen, pada masyarakat dan pada generasi muda.  
3.    Tumbuhnya kecintaan pada potensi seni pedalangan di Kebumen, pada masyarakat dan pada generasi muda.
Hadir diantara puluhan para pemerhati budaya dan pelaku seni Kebumen pada  Rubungan Dopokan Gayeng Maton, selaku nara sumber Ki Basuki Hendro Prayitno, dalang senior dari Ambal, dan Ki Joko Bledeg atau Teguh Budi Santoso, dalang muda dari Bonorowo. 




Nampak hadir juga RH Ageng Sulistyo Handoko Staf Ahli Bupati, Miftahul Ulum Wk.Ketua DPRD Kebumen, Hartono dari Komisi B DPRD Kebumen, Lulus Paryadi, dan Ketua DKD Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo.
Nampak hadir juga RH Ageng Sulistyo Handoko Staf Ahli Bupati


Acara Rubungan yang dipandu oleh Jatmiko Kresnajati tersebut, diawali dengan pementasan seni Jamjaneng dari Panjer Kebumen yang dilanjutkan dengan prakata  ketua panitia Darmawan Riyadi dan Refleksi SRMB oleh Aris Panji WS. Acara dilanjutka dengan Pemotongan salah satu tumpeng dari 16 tumpeng yang ada oleh “Kepala Sekolah” SRMB Daryono Cengkim dan diserahkan kepada Ki Basuki Hendro Prayitno. R.H Ageng Sulistyo Handoko, Miftahul Ulum, Hartono, perwakilan Polsek Kebumen Kota dan perwakilan Lurah Kebumen. Adapun jumlah tumpeng 16 buah tersebut melambangkan 16 tahun usia SRMB.
Acara Rubungan dipandu oleh Jatmiko Kresnajati

Prakata  ketua panitia Darmawan Riyadi 

Refleksi SRMB oleh Aris Panji WS


Pemotongan salah satu tumpeng dari 16 tumpeng yang ada oleh “Kepala Sekolah” SRMB Daryono Cengkim dan diserahkan kepada Ki Basuki Hendro Prayitno
Pada puncak acara Dopokan Gayeng Maton, setelah diawali dengan pemaparan Perkembangan Pedalangan di Kebumen dan Harapannya ke depan oleh dalang Joko Bledeg atau Teguh Budi Santoso, dilanjutkan dengan pemaparan Seni Pewayangan Kebumen oleh Ki Basuki Hendro Prayitno.
Beliau menyampaikan bahwa Wayang Golek Menak Kebumen merupakan bentuk kesenian wayang golek yang sangat khas, yang tidak diketemukan di daerah lain. Sehingga semasa mendiang mertua beliau Ki Sindhu Jotaryono masih ada, sudah pernah didokumentasikan menjadi tulisan ilmiah yang menjadi bahan pengajaran di ISI Surakarta dan ISI Yogyakarta. Bahkan tulisan tersebut telah di terjemahkan kedalam bahasa Inggris.
Ki Basuki,  (75 tahun)  berkesempatan mengungkap sekilas sejarah Kebumen dengan peragaan wayang golek menak, di iringan jamjaneng
Yang menarik adalah pada kesempatan tersebut Ki Basuki, yang kini telah berusia 75 tahun itu berkesempatan mengungkap sekilas sejarah Kebumen dengan peragaan wayang golek menak, dengan iringan jamjaneng. Meskipun hal tersebut dilakukan secara sepontan tanpa persiapan akan tetapi karena kolaborasi antara Wayang Golek dengan Jamjaneng adalah hal yang baru, maka pemaparan Ki Basuki dari Ambal menjadi sangat memikat perhatian yang hadir di acara tersebut.
Harapan Ki Basuki Hendro Prayitno dengan penampilan tersebut audien dapat memahami bahwa pelaku, khususnya seni pedalangan dan seni tradisi pada umumnya harus melakukan inovasi supaya dapat tetap eksis menjawab tantangan jaman. “ Mengadakan sesuatu yang baru berdasarkan bahan yang sudah ada”.
Beliau selain mengingatkan bahwa bagi pelaku seni harus selalu menghargai penonton, karena penonton adalah guru yang baik, beliau juga berharap seni Wayang Golek Menak, khususnya tokoh wayang golek Marmoyo atau Umar Maya dapat menjadi ikon kesenian Kebumen.

Mengingat masyarakat Kebumen yang agamis, dan seni wayang golek menak merupakan bentuk kesenian yang mengandung syiar agama Islam. Sehingga Wayang Golek Menak khas Kebumen ini sangat sesuai dipentaskan pada even-even peringatan hari besar Islam”. 

Kamis, 10 Januari 2019

GRUP GIRI RUPITO LARAS

Juara 1 Festival Ebleg Kebumen Aji 2018

Grup Ebleg Giri Rupito Laras dari desa Kebagoran kecamatan Pejagoan Kebumen pimpinan  Supono
  Grup Ebleg Giri Rupito Laras dari desa Kebagoran kecamatan Pejagoan Kebumen pimpinan  Supono, berhasil merebut juara 1 dalam Festival Ebleg Kebumen Aji 2018. 
Pada  festival yang diselenggarakan oleh Forum EKA ( Forum Ebleg Kebumen Aji ) dan didukung oleh Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Kebumen Daerah itu  penampilan Giri Rupita Laras cukup memukau dewan juri dan penonton. Dengan menampilkan 6 orang penari ebleg, yang diiringi gending Blendrong kulon atau dawet ayu, hasil garapan pelatih dan penata gending  Yamin seniman asal Kebagoran,  Giri Rupita Laras berhasil menjadi penyaji terbaik, dan menyisihkan 19 grup peserta lainnya. Peserta Festival Ebleg Kebumen Aji 2018 dinilai oleh 3 orang juri, Sujatmiko, S.Pd.SD, Widadi Prasetya, S.Pd dan Esti Kurniawati, S.Pd.

Menurut  Sujatmiko S.Pd. SD. salah satu juri pada Festival tersebut Giri Rupita Laras berhasil menampilkan gerak tari khas ebleg dengan cukup kuat dan jelas dibandingkan dengan grup ebleg yang lain. Baik pada gerakan kaki, tangan, maupun gerakan kudanya menunjukkan kekhasan tari ebleg. Meskipun telah diolah dengan tambahan  berbagai variasi gerak, namun tidak meninggalkan kekhasan gerak tari ebleg Kebumen. Giri Rupita Laras juga unggul pada keseragaman dan kekompakan gerak. Meskipun dalam gerak tari yang sederhana namun disajikan secara kompak. Baik pada wirama, wiraga maupun wirasanya.
Terbentuknya Grup ebleg Giri Rupita Laras belum genap berusia satu tahun, yaitu pada sekitar bulan Asyura tahun lalu. Bahkan grup ebleg dengan 12 orang penari ini keadaanya juga masih memprihatinkan, tetapi grup ebleg Giri Rupito Laras tetap semangat, untuk nguri-uri kesenian ebleg kebumenan. Hal tersebut diungkapkan oleh Yamin selaku pelatih dan piƱata gending pada grup ebleg ini pada saat pementasan syukuran atas kemenangannya Sabtu(21/7) lalu di rumah Supono, ketuaGiri Rupito Laras, yang dihadiri Ketua DKD Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo, dan Slamet Sodirin, Ketua forum EKA, yang juga penyelenggara festival.



Lebih lanjut Yamin menjelaskan bahwa gamelan untuk latihan maju lomba kemarin dan untuk pementasan saja masih meminjam gamelan milik Sakum, warga Peniron. Juga sebagian perlengkapan kostum untuk lomba juga masih meminjan dari grup ebleg lainnya.
Sehingga pada kesempatan tersebut, Yamin melalui Dewan Kesenian Kebumen berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen bisa memberi bantuan baik gamelan maupun kostum seragam ebleg.




Ketua DKD Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo, pada sambutannya selain menyampaikan ucapan selamat atas prestasi yang telah diraih oleh grup ebleg  Giri Rupita Laras dan berpesan agar tetap semangat dalam melestarikan kesenian ebleg di Kebumen, juga mengungkapkan rasa simpatinya pada grup Giri Rupita Laras, dan berjanji kedepan akan melibatkan grup ebleg tersebut dalam kegiatan kesenian yang diselenggarakan oleh DKD Kebumen.

TURONGGO LANGGENG BUDOYO SRUWENG PENTAS DI TMII


Paguyuban Ebleg dari  desa  Karanggedang Sruweng, Turonggo Langgeng Budoyo pimpinan Ngadimin saat pengukuhan pengurus dan penyerahan akta lagalitas darai KemenHum Ham oleh Ketua Umum DKD Kebumen Pelik Sat Siswonirmolo.
Paguyuban Ebleg dari  desa  Karanggedang Sruweng, Turonggo Langgeng Budoyo pimpinan Ngadimin, pada hari Minggu (25/3) berhasil memukau ratusan pengunjung Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Pementasan Swadaya Ebleg Turonggo Langgeng Budoyo itu selain dalam rangka Pameran Produk Unggulan Jawa Tengah, juga dalam rangka Reuni Alumni SMP Negeri 2 Karanganyar yang konon sudah 34 tahun tidak pernah berjumpa.

Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo yang turut mendampingi rombongan Ebleg Turonggo Langgeng Budoyo ke TMII memberikan apresiasi yang setinggi-tinginya pada Turonggo Langgeng Budoyo yang dengan pementasan di TMII tersebut, menunjukkan adanya tekad semangat kemandirian yang luar biasa, untuk turut nguri-uri kesenian Ebleg Kebumen.
Hal senada juga disampaikan oleh H.Khamerun SE.MM Kepala Subdit Anjungan Jawa Tengah TMII, pada saat sambutan mewakili Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah , Drs Koesdarminto MM. Pada kesempatan tersebut H.Khamerun  juga menyerahkan piagam penghargaan kepada Ebleg Turonggo Langgeng Budoyo.




Suwignyo SE, warga Desa Karanggedang yang juga donatur penyelenggaraan acara tersebut mengatakan lawatan budaya sebagai ajang silsturahmi sekitar 100 orang alumni alumni SMP Negeri 2 Karanganyar yang sudah 34 tahun tidak ketemu, untuk pendanaan penyelenggaraan berasal dari swadaya komunitas, beberapa alumni yang terpilih, donatur dan juga Bank Jateng Kebumen. Suwignyo berharap dengan pagelaran di TMII, akan menjadikan kesenian ebleg Turonggo Langgeng Budoyo , Kebumen semakin eksis, apalagi di TMII ini ebleg Turonggo Langgeng Budoyo di TMII dengan penampilan yang lain.
  



Untuk latihan persiapan pagelaran Ebleg Turonggo Langgeng Budoyo ke TMII yang dilaksanakan di halaman Dinas Pendidikan Kebumen, dengan peralatan difasilitasi oleh Dinas Pendidikan  Kabupaten Kebumen, dan  dilatih oleh BE Susilohadi,S.Pd. Staf Dinas Pendidikan  Kabupaten Kebumen.

Tampak turut hadir menyaksikan pagelaran, dari Paguyuban Jawa Tengah yang berasal Kebumen Brigjen Pol.Drs. Eddy Murdiyono SH,MH, Bambang Ris dari Iwakk Walet Emas, perwakilan  dari Dinas Pendidikan Kebumen, Ibu Kepala desa Karanggedang, warga Karanggedang di Jakarta dan ratusan pengunjung anjungan Jawa Tengah pecinta kesenian ebleg di Kebumen.