Minggu, 03 September 2017

MENORENG LANGEN BUDOYO SAMBENG



MENORENG LANGEN BUDOYO SAMBENG
Kesenian Asli Kebumen Yang Terlupakan
Salah satu adegan pada pementasan Menoreng Langen Budoyo Sambeng, Pimpinan S.Hadi Wijoyo dengan lakon Lahirnya Imam Suwongso.
Kesenian Menoreng, merupakan salah satu kesenian khas Kebumen, yang keberadaannya pada saat ini sangat meprihatinkan. Beberapa masyarakat Kebumen bahkan sudah tidak mengenalnya. “ Menoreng si apa?”, begitu pertanyaan yang selalu terlontar ketika disebutkan  nama kesenian ini.
Hal tersebut tentu saja bisa dimaklumi lantaran kesenian ini memang sudah jarang ditanggap untuk dipentaskan. Beruntung di dukuh Sambeng, desa Seling kecamatan Karangsambung, masih ada beberapa orang yang masih bertahan mempertahankan kelestarian kesenian ini.
Mereka tergabung dalam grup Kesenian Menoreng Langen Budoyo, pimpinan S. Hadi Wijoyo,  yang beranggotakan sekitar 23 orang pemain, 7 orang penabuh iringan musik, dengan 2 orang dalang Menoreng, Arjo Sumarto dan S. Hadi Wijoyo. Dimana usia para pemain, penabuh iringan musik dan dalangnya termasuk sudah tidak muda lagi, rata-rata diatas 40 tahun hingga 65 tahun. Menurut pimpinan rombongan menoreng Langen Budoyo, S. Hadi Wijoyo, saat sekarang memang jarang ada anak muda di desa, yang mau menjadi pemain menoreng. Kebanyakan dari mereka lebih tertarik menjadi pemain kesenian Ebleg  atau kuda Kepang. Beruntung di SD Negeri Pencil Kecamatan Karangsambung diselenggarakan ekschool Menoreng bagi para siswanya.  Sehingga diharapkan para siswa inilah yang nantinya akan turut melestarikan keberadaan kesenian Menoreng.
Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen melihat kesenian Menoreng merupakan bentuk kesenian yang unik, yang merupakan kesenian khas Kebumen. Hal tersebut dapan dibuktikan dari pengucapan nama kesenian tersebut. Mengucapkan kata Menoreng itu hanya pas diucapkan oleh orang Kebumen yang  mengetahui kesenian tersebut, yaitu ucapan “reng” seperti mengucapkan “reng” pada kata goreng atau mencoreng. Orang-orang yang tidak mengetahui kesenian tersebut pasti menyebutnya keliru.
Keunikan lain dari kesenian Menoreng adalah bentuk pementasannya seperti halnya wayang orang, tetapi pakaian atau kostum yang dikenakan tidak meniru kostum wayang kulit, melainkan meniru kostum wayang golek menak. Cerita yang dibawakan juga bersumber pada cerita babad menak, bukan babad Ramayana atau Mahabarata. Kesenian menoreng ini sangat bernuansa islami. Karena tetabuhan  yang digunakan sebagai musik  pengiringnya terdiri dari kendang, beduk, kecrek dan rebana. Demikian pula syair-syair yang ditembangkan, guga berisi ajaran-ajaran keislaman.
Sebagai upaya melaksanakan tugas dan fungsinya, yaitu memajukan, memelihara dan melestarikan seni dan budaya daerah. Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Kebumen, Selasa(18/7) lalu, mementaskan Kesenian tradisional asli Kebumen, yang sudah hampir tidak dikenal oleh masyarakat Kebumen sendiri.
Pementasan kesenian tersebut,  diusulkan oleh DKD Kebumen  kepada Dinas Kominfo Kabupaten Kebumen  dalam rangkaian program Diseminasi Informasi Dengan Kemitraan Kesenian Tradisional. Dengan harapan dapat memberi kesempatan pada kesenian Menoreng untuk dapat dikenal oleh masyarakat , dan sebagai upaya DKD untuk mendokumentasikan kesenian tersebut . Kebetulan usulan tersebut ditanggapi positif oleh Kepala Bidang IKP Dinas Kominfo Kebumen Dewi lndri Astuti, SP, MM.
Upaya DKD untuk mementaskan kesenian Menoreng juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, diantaranya Kepala Desa Seling Sutarjo, Ketua Grup Menoreng S. Hadi Wijoyo dan juga Kepala SD Negeri Pencil, Warisno, S.Pd, M.Pd. Bahkan Warisno, S.Pd, M.Pd  menyediakan halaman sekolahnya untuk mementaskan Menoreng Langen Budoyo pimpinan S.Hadi Wijaya dari dukuh Sambeng desa Seling kecamatan Karangsambung,
Pementasan Menoreng dengan lakon Lahirnya Imam Suwongso dengan dalang Arjo Sumarto tersebut ternyata mendapat sambutan yang baik dari bapak, ibu guru SD Negeri Pencil, para siswa dan masyarakat. Hal itu  dibuktikan dengan banyaknya bapak dan ibuguru, para siswa dan masyarakat yang menyaksikan, yang tidak hanya dari warga setempat, namun ternyata tidak sedikit pula dari luar desa Seling. Hadir pula pada pementasan tersebut Kepala Desa  Seling Sutarjo, Kepala SD Negeri Seling Warisno, S.Pd, M.Pd, Kepala Bidang IKP Dinas Kominfo Kebumen Dewi lndri Astuti, SP, MM. Kasi Perizinan Dinas PM &PTSP, Nurhayatun, S.ST. MM, dan Ketua DKD Kebumen, Pekik Sat Siswonirmolo.
Menurut Pekik Sat Siswonirmolo kegiatan tersebut  sudah merupakan tugas DKD, dan berharap semoga dengan pementasan ini dapat turut mendukung keberadaan kesenian Menoreng untuk dapat semakin dikenal kembali oleh masyarakat di Kebumen, seperti ketika DKD dulu mengangkat kesenian Cepetan dari Peniron dan Watulawang, kecamatan Pejagoan.
Sementara itu, Kepala desa Seling Sutarjo mengharapkan adanya regenerasi bagi anak2 terhadap berbagai kesenian tradisional yang ada seperti menoreng, lengger, dan jemblung, Kades Sutarjo juga menyampaikan adanya ekstrakurikuler Menoreng di SD Pencil tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar