Senin, 14 Januari 2019

DWI WINDU SRMB

 DOPOKAN GAYENG MATON SENI PEDALANGAN KEBUMENAN
Seni Pedalangan di Kebumen ternyata memiliki gaya atau gagrag tersendiri, yang karakternya agak berbeda dengan seni pedalangan yang berkembang secara umun di Jawa atau bahkan di Indonesia. Secara umum kita mengenal ada seni pedalangan Gagrag Surakarta, Gagrag Yogyakarta, Gagrag Tegalan, Gagrag Banyumasan dan lain sebagainya.

Akan tetapi seni pedalangan Gagrag Kebumen, yang konon dianggap sebagai cikal bakalnya seni pedalangan gagrag banyumasan itu, justru kurang dikenal. Barangkali salah satu penyebabnya adalah tidak adanya kajian ilmiah atau penelitian ilmiah dan forum-forum yang secara intens berusaha membedah adanya seni pedalangan gagrag kebumenan.






Kondisi seperti ini perlu disikapi oleh berbagai elemen masyarakat Kebumen, dengan melakukan berbagai upaya untuk secara intens berusaha membedah adanya seni pedalangan gagrag kebumenan..
Dalam rangka menjawab persoalan tersebut maka, Sekolah Rakyat Melubae (SRMB) Kebumen  sebagai bagian dari elemen masyarakat Kebumen, pada acara ulang tahunnya yang ke-16, menyelenggarakan acara Rubungan Dopokan Gayeng Maton dengan tema Seni Pedalangan Kebumen bersama Ki Basuki Hendro Prayitno dalang sepuh dari Ambal Kebumen.
Darmawan Riyadi selaku ketua panitia penyelenggara menyampaikan “ Melalui acara yang diselenggarakan di Balai Kelurahan Kebumen pada Minggu malam (13/1) mulai pukul 20.00 wib tersebut diharapkan akan :
1.    Menyegarkan kembali ingatan kita akan adanya Seni Pedalangan, baik Wayang Kulit ataupun Wayang Golek Menak Gagrag Kebumen
2.    Tumbuhnya kebanggaan pada potensi seni pedalangan di Kebumen, pada masyarakat dan pada generasi muda.  
3.    Tumbuhnya kecintaan pada potensi seni pedalangan di Kebumen, pada masyarakat dan pada generasi muda.
Hadir diantara puluhan para pemerhati budaya dan pelaku seni Kebumen pada  Rubungan Dopokan Gayeng Maton, selaku nara sumber Ki Basuki Hendro Prayitno, dalang senior dari Ambal, dan Ki Joko Bledeg atau Teguh Budi Santoso, dalang muda dari Bonorowo. 




Nampak hadir juga RH Ageng Sulistyo Handoko Staf Ahli Bupati, Miftahul Ulum Wk.Ketua DPRD Kebumen, Hartono dari Komisi B DPRD Kebumen, Lulus Paryadi, dan Ketua DKD Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo.
Nampak hadir juga RH Ageng Sulistyo Handoko Staf Ahli Bupati


Acara Rubungan yang dipandu oleh Jatmiko Kresnajati tersebut, diawali dengan pementasan seni Jamjaneng dari Panjer Kebumen yang dilanjutkan dengan prakata  ketua panitia Darmawan Riyadi dan Refleksi SRMB oleh Aris Panji WS. Acara dilanjutka dengan Pemotongan salah satu tumpeng dari 16 tumpeng yang ada oleh “Kepala Sekolah” SRMB Daryono Cengkim dan diserahkan kepada Ki Basuki Hendro Prayitno. R.H Ageng Sulistyo Handoko, Miftahul Ulum, Hartono, perwakilan Polsek Kebumen Kota dan perwakilan Lurah Kebumen. Adapun jumlah tumpeng 16 buah tersebut melambangkan 16 tahun usia SRMB.
Acara Rubungan dipandu oleh Jatmiko Kresnajati

Prakata  ketua panitia Darmawan Riyadi 

Refleksi SRMB oleh Aris Panji WS


Pemotongan salah satu tumpeng dari 16 tumpeng yang ada oleh “Kepala Sekolah” SRMB Daryono Cengkim dan diserahkan kepada Ki Basuki Hendro Prayitno
Pada puncak acara Dopokan Gayeng Maton, setelah diawali dengan pemaparan Perkembangan Pedalangan di Kebumen dan Harapannya ke depan oleh dalang Joko Bledeg atau Teguh Budi Santoso, dilanjutkan dengan pemaparan Seni Pewayangan Kebumen oleh Ki Basuki Hendro Prayitno.
Beliau menyampaikan bahwa Wayang Golek Menak Kebumen merupakan bentuk kesenian wayang golek yang sangat khas, yang tidak diketemukan di daerah lain. Sehingga semasa mendiang mertua beliau Ki Sindhu Jotaryono masih ada, sudah pernah didokumentasikan menjadi tulisan ilmiah yang menjadi bahan pengajaran di ISI Surakarta dan ISI Yogyakarta. Bahkan tulisan tersebut telah di terjemahkan kedalam bahasa Inggris.
Ki Basuki,  (75 tahun)  berkesempatan mengungkap sekilas sejarah Kebumen dengan peragaan wayang golek menak, di iringan jamjaneng
Yang menarik adalah pada kesempatan tersebut Ki Basuki, yang kini telah berusia 75 tahun itu berkesempatan mengungkap sekilas sejarah Kebumen dengan peragaan wayang golek menak, dengan iringan jamjaneng. Meskipun hal tersebut dilakukan secara sepontan tanpa persiapan akan tetapi karena kolaborasi antara Wayang Golek dengan Jamjaneng adalah hal yang baru, maka pemaparan Ki Basuki dari Ambal menjadi sangat memikat perhatian yang hadir di acara tersebut.
Harapan Ki Basuki Hendro Prayitno dengan penampilan tersebut audien dapat memahami bahwa pelaku, khususnya seni pedalangan dan seni tradisi pada umumnya harus melakukan inovasi supaya dapat tetap eksis menjawab tantangan jaman. “ Mengadakan sesuatu yang baru berdasarkan bahan yang sudah ada”.
Beliau selain mengingatkan bahwa bagi pelaku seni harus selalu menghargai penonton, karena penonton adalah guru yang baik, beliau juga berharap seni Wayang Golek Menak, khususnya tokoh wayang golek Marmoyo atau Umar Maya dapat menjadi ikon kesenian Kebumen.

“ Mengingat masyarakat Kebumen yang agamis, dan seni wayang golek menak merupakan bentuk kesenian yang mengandung syiar agama Islam. Sehingga Wayang Golek Menak khas Kebumen ini sangat sesuai dipentaskan pada even-even peringatan hari besar Islam”. 

Kamis, 10 Januari 2019

GRUP GIRI RUPITO LARAS

Juara 1 Festival Ebleg Kebumen Aji 2018

Grup Ebleg Giri Rupito Laras dari desa Kebagoran kecamatan Pejagoan Kebumen pimpinan  Supono
  Grup Ebleg Giri Rupito Laras dari desa Kebagoran kecamatan Pejagoan Kebumen pimpinan  Supono, berhasil merebut juara 1 dalam Festival Ebleg Kebumen Aji 2018. 
Pada  festival yang diselenggarakan oleh Forum EKA ( Forum Ebleg Kebumen Aji ) dan didukung oleh Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Kebumen Daerah itu  penampilan Giri Rupita Laras cukup memukau dewan juri dan penonton. Dengan menampilkan 6 orang penari ebleg, yang diiringi gending Blendrong kulon atau dawet ayu, hasil garapan pelatih dan penata gending  Yamin seniman asal Kebagoran,  Giri Rupita Laras berhasil menjadi penyaji terbaik, dan menyisihkan 19 grup peserta lainnya. Peserta Festival Ebleg Kebumen Aji 2018 dinilai oleh 3 orang juri, Sujatmiko, S.Pd.SD, Widadi Prasetya, S.Pd dan Esti Kurniawati, S.Pd.

Menurut  Sujatmiko S.Pd. SD. salah satu juri pada Festival tersebut Giri Rupita Laras berhasil menampilkan gerak tari khas ebleg dengan cukup kuat dan jelas dibandingkan dengan grup ebleg yang lain. Baik pada gerakan kaki, tangan, maupun gerakan kudanya menunjukkan kekhasan tari ebleg. Meskipun telah diolah dengan tambahan  berbagai variasi gerak, namun tidak meninggalkan kekhasan gerak tari ebleg Kebumen. Giri Rupita Laras juga unggul pada keseragaman dan kekompakan gerak. Meskipun dalam gerak tari yang sederhana namun disajikan secara kompak. Baik pada wirama, wiraga maupun wirasanya.
Terbentuknya Grup ebleg Giri Rupita Laras belum genap berusia satu tahun, yaitu pada sekitar bulan Asyura tahun lalu. Bahkan grup ebleg dengan 12 orang penari ini keadaanya juga masih memprihatinkan, tetapi grup ebleg Giri Rupito Laras tetap semangat, untuk nguri-uri kesenian ebleg kebumenan. Hal tersebut diungkapkan oleh Yamin selaku pelatih dan piƱata gending pada grup ebleg ini pada saat pementasan syukuran atas kemenangannya Sabtu(21/7) lalu di rumah Supono, ketuaGiri Rupito Laras, yang dihadiri Ketua DKD Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo, dan Slamet Sodirin, Ketua forum EKA, yang juga penyelenggara festival.



Lebih lanjut Yamin menjelaskan bahwa gamelan untuk latihan maju lomba kemarin dan untuk pementasan saja masih meminjam gamelan milik Sakum, warga Peniron. Juga sebagian perlengkapan kostum untuk lomba juga masih meminjan dari grup ebleg lainnya.
Sehingga pada kesempatan tersebut, Yamin melalui Dewan Kesenian Kebumen berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Kebumen bisa memberi bantuan baik gamelan maupun kostum seragam ebleg.




Ketua DKD Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo, pada sambutannya selain menyampaikan ucapan selamat atas prestasi yang telah diraih oleh grup ebleg  Giri Rupita Laras dan berpesan agar tetap semangat dalam melestarikan kesenian ebleg di Kebumen, juga mengungkapkan rasa simpatinya pada grup Giri Rupita Laras, dan berjanji kedepan akan melibatkan grup ebleg tersebut dalam kegiatan kesenian yang diselenggarakan oleh DKD Kebumen.

TURONGGO LANGGENG BUDOYO SRUWENG PENTAS DI TMII


Paguyuban Ebleg dari  desa  Karanggedang Sruweng, Turonggo Langgeng Budoyo pimpinan Ngadimin saat pengukuhan pengurus dan penyerahan akta lagalitas darai KemenHum Ham oleh Ketua Umum DKD Kebumen Pelik Sat Siswonirmolo.
Paguyuban Ebleg dari  desa  Karanggedang Sruweng, Turonggo Langgeng Budoyo pimpinan Ngadimin, pada hari Minggu (25/3) berhasil memukau ratusan pengunjung Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Pementasan Swadaya Ebleg Turonggo Langgeng Budoyo itu selain dalam rangka Pameran Produk Unggulan Jawa Tengah, juga dalam rangka Reuni Alumni SMP Negeri 2 Karanganyar yang konon sudah 34 tahun tidak pernah berjumpa.

Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo yang turut mendampingi rombongan Ebleg Turonggo Langgeng Budoyo ke TMII memberikan apresiasi yang setinggi-tinginya pada Turonggo Langgeng Budoyo yang dengan pementasan di TMII tersebut, menunjukkan adanya tekad semangat kemandirian yang luar biasa, untuk turut nguri-uri kesenian Ebleg Kebumen.
Hal senada juga disampaikan oleh H.Khamerun SE.MM Kepala Subdit Anjungan Jawa Tengah TMII, pada saat sambutan mewakili Kepala Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah , Drs Koesdarminto MM. Pada kesempatan tersebut H.Khamerun  juga menyerahkan piagam penghargaan kepada Ebleg Turonggo Langgeng Budoyo.




Suwignyo SE, warga Desa Karanggedang yang juga donatur penyelenggaraan acara tersebut mengatakan lawatan budaya sebagai ajang silsturahmi sekitar 100 orang alumni alumni SMP Negeri 2 Karanganyar yang sudah 34 tahun tidak ketemu, untuk pendanaan penyelenggaraan berasal dari swadaya komunitas, beberapa alumni yang terpilih, donatur dan juga Bank Jateng Kebumen. Suwignyo berharap dengan pagelaran di TMII, akan menjadikan kesenian ebleg Turonggo Langgeng Budoyo , Kebumen semakin eksis, apalagi di TMII ini ebleg Turonggo Langgeng Budoyo di TMII dengan penampilan yang lain.
  



Untuk latihan persiapan pagelaran Ebleg Turonggo Langgeng Budoyo ke TMII yang dilaksanakan di halaman Dinas Pendidikan Kebumen, dengan peralatan difasilitasi oleh Dinas Pendidikan  Kabupaten Kebumen, dan  dilatih oleh BE Susilohadi,S.Pd. Staf Dinas Pendidikan  Kabupaten Kebumen.

Tampak turut hadir menyaksikan pagelaran, dari Paguyuban Jawa Tengah yang berasal Kebumen Brigjen Pol.Drs. Eddy Murdiyono SH,MH, Bambang Ris dari Iwakk Walet Emas, perwakilan  dari Dinas Pendidikan Kebumen, Ibu Kepala desa Karanggedang, warga Karanggedang di Jakarta dan ratusan pengunjung anjungan Jawa Tengah pecinta kesenian ebleg di Kebumen.

Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen Mendorong Terbentuknya Paguyuban Tosan Aji Kebumen




Berawal dari kegelisahan dan keprihatinan bersama terhadap semakin rendahnya kepedulian serta apresiasi masyarakat Kebumen terhadap tosan aji yang ada di Kebumen. Dewan Kesenian Daerah Kebumen (DKD) bersama paguyuban budaya dan spiritual Bolosewu menggagas pembentukan komunitas tosan aji di Kabupaten Kebumen.
Rencana tersebut tercetus saat dialog yang digelar di Rumah Budaya Bumi Bimasakti Kebumen, Minggu (23/07/2017) pagi. Dialog tosan aji tersebut dihadiri oleh Ketua Umum DKD Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo dan sejumlah tokoh dari berbagai macam latar belakang, mulai dari budayawan, legislator hingga pemerhati tosan aji Kebumen.
Menurut Ki Setyo Budi, salah satu budayawan Kebumen menuturkan bahwa Kabupaten Kebumen kini masih banyak menyimpan benda-benda pusaka yang tersebar di beberapa tempat.
Kebumen masih banyak memiliki benda pusaka, terutama di wilayah pesisir selatan, namun sayang, banyak yang secara fisik kurang terawat sehingga perlu adanya fasilitasi  bagi para pemilik tosan aji untuk melakukan perawatan dan penyimpanan terhadap tosan aji tersebut,” ungkap Setyo.
Dalam kesempatan yang sama Zaeni Miftah, salah satu legislator Kebumen yang hadir dalam dialog tosan aji tersebut mengutarakan, keberadaan tosan aji yang terawat dengan baik, nantinya akan dapat mendorong edukasi bagi masyarakat luas, khususnya masyarakat Kebumen. 
Adanya komunitas tosan aji akan dapat meningkatkan apresiasi dan meluruskan persepsi keliru sebagian masyarakat terhadap tosan aji.
Perlu dibangun persepsi bersama mengenai tosan aji yg tidak bertentangan dengan akidah, namun tetap menempatkan tosan aji sebagai masterpiece budaya luhur yang perlu dirawat dan dijaga.

JAGO TENGSIANG PENTAS DI TBRS SEMARANG.

Rombongan diterima Kepala DISKOMINFO Jawa Tengah Dadang Soemantri (tengah batik hitam)
Setiap menjelang masa pemilihan kepala daerah, akan muncul para pengusung calon jago kepala daerah. Mereka mempromosikan calon yang dijagokan.
Deklarasi Anti Hoak sebelum Festival dimulai bersama kontingen yang lain

Mereka akan bersaing dengan berbagai cara untuk mengkapanyekan jago masing-masing. Tidak menutup kemungkinan munculnya penyebaran ujaran kebencian (hoaks) dan fitnah tehadap calon. Diperlukan adanya upaya untuk mengingatkan warga masyarakat, meskipun jago yang diusung berbeda, tidak kemudian menjadi saling bermusuhan. Mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga persatuan dan kesatuan. Sehingga terlaksana pemilu damai, yang mesti becik tur nyenengke.
Rangkaian Tarian Pembuka sebelum pementasan
Rangkaian Tarian Pembuka sebelum pementasan

Rangkaian Tarian Pembuka sebelum pementasan
 Itulah sinopsis dan pesan moral yang terkandung pada pementasan Jago Tengsiang, persembahan Sekolah Rakyat Melubae, yang diutus Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) kabupaten Kebumen, untuk mewakili Kabupaten Kebumen pada Festival Pertunjukan Rakyat Forum Komunikasi Media Tradisional Provinsi Jawa Tengah 2018, yang diselenggarakan oleh Diskominfo Jawa Tengah (28/04) di Taman Budaya Raden Saleh Semarang.
Adegan Jago Tengsiang di Taman Budaya Raden Saleh Semarang

Adegan Jago Tengsiang di Taman Budaya Raden Saleh Semarang

Duta kabupaten Kebumen tersebut berangkat ke Semarang pada Jum'at malam (27/04) dilepas oleh Lurah Kebumen Dede Suntoro, S.Sos, dari Balai Kelurahan Kebumen. Rombongan dengan 25 personil, yang terdiri dari 5 orang penari, 4 orang aktor, 6 orang pemusik, dan 5 orang kru, itu selanjutnya difasilitasi Diskominfo Jateng untuk transit di Aula Diskominfo Jateng.

Adegan awal  Jago Tengsiang di Taman Budaya Raden Saleh Semarang

Persiapan pementasan Jago Tengsiang di Taman Budaya Raden Saleh Semarang

Adegan awal Jago Tengsiang di Taman Budaya Raden Saleh Semarang
Bahkan pada pagi harinya Kepala Diskominfo Jawa Tengah  Dadang Soemantri sempat berkunjung untuk bertegur sapa dan foto bersama dengan rombongan kesenian dari Kebumen yang transit di aula Diskominfo Jateng.
Pementasan teater yang merupakan produksi Sekolah Rakyat Melubae (SRMB)
Kebumen tahun 2018 tersebut mengangkat cerita Jago Tengsiang, dengan sutradara Pekik Sat Siswonirmolo, dengan pemain Pitra Suwita, Pekik, Dalwan Darmawan Riyadi, Sudaryono Cengkim, dengan lima orang penari Arum dan Wiwied. Vera S.Pd, Ari Setyowati,S.Pd, Esti Kurniawati, S.Pd. Untuk garapan musik dipercayakan pada Nurrokhim, Dodot Suryo Handaru, Sudiantoro, Sutarjo, S.Pd. Bandiyo Sriyono S.Pd dan Sujatmiko S.Pd. sedangkan garapan tari oleh Sutarjo, S.Pd.
Pada sambutan pemberangkatan Lurah Kebumen Dede Suntoro, S.Sos menyatakan dukungannya pada acara pementasan teater rakyat oleh Komunitas Sekolah Rakyat Melubae (SRMB) Kebumen dalam rangka Festival Pertunjukan Rakyat Forum Komunikasi Media Tradisional Provinsi Jawa Tengah 2018, di Taman Budaya Raden Saleh Semarang. Harapanya pementasan Komunitas Sekolah Rakyat Melubae (SRMB) di Festival dapat menjadi duta kesenian yang mengharumkan Kabupaten Kebumen.
Ketua FK-Metra  Kabupaten Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo menyampaikan bahwa keikutsertaan Kebumen pada even Festival Pertunjukan Rakyat Forum Komunikasi Media Tradisional Provinsi Jawa Tengah 2018 merupakan kali yang pertama, sejak secara rutin tiap tahun even ini diselenggarakan 10 tahun yang lalu, namun meskipun dalam keadaan yang serba terbatas, tetap optimis pada kesempatan kali ini akan berhasil mendapatkan kejuaraan.

Dewi Indri Astuti,S.P.,MM, Kabid IKP Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kebumen, yang turut menyaksikan pementasan di Taman Budaya Raden Saleh menyatakan pementasan teater rakyat Jago Tengsiang SRMB adalah untuk mewakili Kabupaten Kebumen dalam Seleksi Pertunjukan Rakyat di Taman Raden Saleh Semarang pada tanggal 28 April 2018, setelah sebelumnya telah dipentaskan di Balai Kelurahan Kebumen dalam rangka Sosialisasi Pilgub dan Wagub Jateng 2018.

PAMERAN SENI RUPA DI RUMAH BUDAYA BUMI BIMASAKTI

Bupati Kebumen memberikan sambutan pada pembukaan pameran Bangga Kebumen di Rumah Budaya Bumi Bimasakti Kebumen
Bupati Kebumen Mohammad Yahya Fuad berkenan hadir membuka Pameran Seni Rupa yang berlangsung di di Rumah Budaya Bumi Bimasakti di Jalan Masjid 2 Nomor 19 Kauman Kebumen, Selasa (02/05/2017).
Pameran seni rupa “Bangga Kebumen” tersebut merupakan langkah awal para perupa Kebumen untuk berkonsolidasi dan ikut berkiprah dalam pembangunan di Kebumen, yang diselenggarakan Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Kebumen bekerja sama dengan Paguyuban Budaya dan Spiritual Cakra Buana.
Pameran diikuti perupa dengan beragam latar belakang pendidikan. Ada karya anak-anak SD, kerajinan tangan, lukisan cat minyak, sketsa, batik Kebumen, seni rupa logam sampai lukisan dengan cangkang telur. Kerajinan khas Kebumen juga ikut dipamerkan seperti beragam akik, kerajinan dari biji jenitri serta perangkat makan-minum dari batok kelapa. Bahkan pada saat pembukaan dimeriahkan juga dengan permainan sulap melukis dengan api dan keris berkepala bebek.
Bupati Kebumen mengamati pelukis foto tang sedang beraksi
Dalam sambutannya Bupati Kebumen Mohammad Yahya Fuad memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para seniman dan budayawan Kebumen atas kegiatan tersebut.
Fuad mengungkapkan, dirinya sangat bangga dan mendukung kreativitas dari para pelaku seni di Kabupaten Kebumen. Karena mereka terus mendedikasikan dirinya untuk melestarikan sekaligus mewarnai seni budaya di Kebumen.

Kita sangat mengapresiasi kreativitas dari para seniman dan budayawan di Kebumen meskipun dengan masih banyaknya kekurangan fasilitas pendukung dari pemerintah, namun tidak menyurutkan semangat kreativitas para pelaku seni, papar Yahya Fuad.
Yahya Fuad berharap agar para seniman dan budayawan Kebumen bisa lebih bersinergi lagi dengan pemerintah kabupaten Kebumen dalam rangka meningkatkan sisi budaya dan pariwisata. 
Kami harap para seniman dan budayawan di Kebumen, kedepan akan semakin bersinergi lagi dengan pemrintahan dalam rangka memajukan pariwisata Kebumen melalui sektor budaya dan kesenian, karena sektor budaya dan kesenian mempunyai peran penting dalam memajukan sektor pariwisata.
Yahya Fuad juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada  Rumah Budaya Bumi Bimasakti yang pada kesempatan kali ini tengah menggelar pameran seni rupa dalam upaya memperkenalkan budaya seni  rupa kepada masyarakat Kebumen dan dunia luar.

MENORENG LANGEN BUDOYO SAMBENG

Kesenian Asli Kebumen Yang Terlupakan

Kesenian Menoreng, merupakan salah satu kesenian khas Kebumen, yang keberadaannya pada saat ini sangat meprihatinkan. Beberapa masyarakat Kebumen bahkan sudah tidak mengenalnya. “ Menoreng si apa?”, begitu pertanyaan yang selalu terlontar ketika disebutkan  nama kesenian ini.

Hal tersebut tentu saja bisa dimaklumi lantaran kesenian ini memang sudah jarang ditanggap untuk dipentaskan. Beruntung di dukuh Sambeng, desa Seling kecamatan Karangsambung, masih ada beberapa orang yang masih bertahan mempertahankan kelestarian kesenian ini.
Mereka tergabung dalam grup Kesenian Menoreng Langen Budoyo, pimpinan S. Hadi Wijoyo,  yang beranggotakan sekitar 23 orang pemain, 7 orang penabuh iringan musik, dengan 2 orang dalang Menoreng, Arjo Sumarto dan S. Hadi Wijoyo. Dimana usia para pemain, penabuh iringan musik dan dalangnya termasuk sudah tidak muda lagi, rata-rata diatas 40 tahun hingga 65 tahun. Menurut pimpinan rombongan menoreng Langen Budoyo, S. Hadi Wijoyo, saat sekarang memang jarang ada anak muda di desa, yang mau menjadi pemain menoreng. 

Kebanyakan dari mereka lebih tertarik menjadi pemain kesenian Ebleg  atau kuda Kepang. Beruntung di SD Negeri Pencil Kecamatan Karangsambung diselenggarakan ekschool.
Menoreng bagi para siswanya.  Sehingga diharapkan para siswa inilah yang nantinya akan turut melestarikan keberadaan kesenian Menoreng.

Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kebumen melihat kesenian Menoreng merupakan bentuk kesenian yang unik, yang merupakan kesenian khas Kebumen. Hal tersebut dapan dibuktikan dari pengucapan nama kesenian tersebut. Mengucapkan kata Menoreng itu hanya pas diucapkan oleh orang Kebumen yang  mengetahui kesenian tersebut, yaitu ucapan “reng” seperti mengucapkan “reng” pada kata goreng atau mencoreng. Orang-orang yang tidak mengetahui kesenian tersebut pasti menyebutnya keliru.

Keunikan lain dari kesenian Menoreng adalah bentuk pementasannya seperti halnya wayang orang, tetapi pakaian atau kostum yang dikenakan tidak meniru kostum wayang kulit, melainkan meniru kostum wayang golek menak. Cerita yang dibawakan juga bersumber pada cerita babad menak, bukan babad Ramayana atau Mahabarata. Kesenian menoreng ini sangat bernuansa islami. Karena tetabuhan  yang digunakan sebagai musik  pengiringnya terdiri dari kendang, beduk, kecrek dan rebana. Demikian pula syair-syair yang ditembangkan, guga berisi ajaran-ajaran keislaman.

Sebagai upaya melaksanakan tugas dan fungsinya, yaitu memajukan, memelihara dan melestarikan seni dan budaya daerah. Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Kebumen, Selasa(18/7) lalu, mementaskan Kesenian tradisional asli Kebumen, yang sudah hampir tidak dikenal oleh masyarakat Kebumen sendiri.
Pementasan kesenian tersebut,  diusulkan oleh DKD Kebumen  kepada Dinas Kominfo Kabupaten Kebumen  dalam rangkaian program Diseminasi Informasi Dengan Kemitraan Kesenian Tradisional. Dengan harapan dapat memberi kesempatan pada kesenian Menoreng untuk dapat dikenal oleh masyarakat , dan sebagai upaya DKD untuk mendokumentasikan kesenian tersebut . Kebetulan usulan tersebut ditanggapi positif oleh Kepala Bidang IKP Dinas Kominfo Kebumen Dewi lndri Astuti, SP, MM.

Upaya DKD untuk mementaskan kesenian Menoreng juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, diantaranya Kepala Desa Seling Sutarjo, Ketua Grup Menoreng S. Hadi Wijoyo dan juga Kepala SD Negeri Pencil, Warisno, S.Pd, M.Pd. Bahkan Warisno, S.Pd, M.Pd  menyediakan halaman sekolahnya untuk mementaskan Menoreng Langen Budoyo pimpinan S.Hadi Wijaya dari dukuh Sambeng desa Seling kecamatan Karangsambung.

Pementasan Menoreng dengan lakon Lahirnya Imam Suwongso dengan dalang Arjo Sumarto tersebut ternyata mendapat sambutan yang baik dari bapak, ibu guru SD Negeri Pencil, para siswa dan masyarakat. Hal itu  dibuktikan dengan banyaknya bapak dan ibuguru, para siswa dan masyarakat yang menyaksikan, yang tidak hanya dari warga setempat, namun ternyata tidak sedikit pula dari luar desa Seling. Hadir pula pada pementasan tersebut Kepala Desa  Seling Sutarjo, Kepala SD Negeri Seling Warisno, S.Pd, M.Pd, Kepala Bidang IKP Dinas Kominfo Kebumen Dewi lndri Astuti, SP, MM. Kasi Perizinan Dinas PM &PTSP, Nurhayatun, S.ST. MM, dan Ketua DKD Kebumen, Pekik Sat Siswonirmolo.

Menurut Pekik Sat Siswonirmolo kegiatan tersebut  sudah merupakan tugas DKD, dan berharap semoga dengan pementasan ini dapat turut mendukung keberadaan kesenian Menoreng untuk dapat semakin dikenal kembali oleh masyarakat di Kebumen, seperti ketika DKD dulu mengangkat kesenian Cepetan dari Peniron dan Watulawang, kecamatan Pejagoan.
Sementara itu, Kepala desa Seling Sutarjo mengharapkan adanya regenerasi bagi anak2 terhadap berbagai kesenian tradisional yang ada seperti menoreng, lengger, dan jemblung, Kades Sutarjo juga menyampaikan adanya ekstrakurikuler Menoreng di SD Pencil tersebut. 

SRMB NGGELAR JAGO TENGSIANG DI PENDOPO KELURAHAN KEBUMEN


Sekolah Rakyat MeluBae Kebumen bekerjasama dengan KPU dan Kelurahan Kebumen, menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah 2018 dan Pementasan Teater Rakyat 2018
Pementasan bertempat di Balai Kelurahan Kebumen pada hari Jum’at (13/04), disaksikan sebanyak puluhan peserta Sosialisasi Pil Gub dan Wagub Jateng 2018 dan para pemerhati seni teater Kebumen.  
Pementasan teater yang merupakan produksi Sekolah Rakyat Melubae (SRMB) Kebumen tahun 2018 tersebut mengangkat cerita Jago Tengsiang, dengan sutradara Pekik Sat Siswonirmolo, dengan pemain Pitra Suwita, Pekik, Dalwan Darmawan Riyadi, Sudaryono Cengkim, dengan dua orang penari Arum dan Wiwied. Untuk garapan musik dipercayakan pada Nurrokhim dan Dodot Suryo Handaru, sedangkan garapan tari oleh Sutarjo, S.Pd.

Pada sambutan pembukaan Lurah Kebumen Dede Suntoro, S.Sos menyatakan dukungannya pada acara pementasan teater rakyat dalam rangka sosialisasi Pilgub dan Wagub Jateng 2018 oleh  Komunitas Sekolah Rakyat Melubae (SRMB).
Ketua panitia Pitra Suwita menyampaikan  “Pementasan teater rakyat SRMB 2018 ini merupakan wujud partisipasi aktifitas teater di Kebumen dalam rangka turut serta mensosialisasikan kegiatan Pilgub dan Wagub Jateng 2018” .

Dalam kesempatan tersebut Supriyanto, dari KPU Kebumen berharap “ Sosialisasi melalui jalur kesenian, khususnya pementasan teater rakyat diharapkan dapat mendorong peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Tengah tahun 2018, yang akan diselenggarakan nanti pada tanggal 27 Juni 2018 nanti”.


Bahkan pada sesi dialog diakhir pementasan Dewi Indri Astuti,S.P.,MM,  Kabid IKP Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kebumen, yang turut menyaksikan pementasan teater tersebut meminta Jago Tengsiang SRMB untuk mewakili kabupaten Kebumen dalam Seleksi Pertunjukan Rakyat di Taman Raden Saleh Semarang pada tanggal 28 April 2018 mendatang.

Jumat, 02 November 2018

BERAGAM LOGO KABUPATEN KEBUMEN









Sampai saat ini telah banyak beredar beragam bentuk gambar logo untuk Kabupaten Kebumen.
Tentu saja hal tersebut sangat memprihatinkan, meningat fungsi logo daerah  merupakan cerminan jati diri bagi suatu daerah Lambang daerah berkedudukan sebagai tanda identitas daerah.
(2) Lambang daerah berfungsi sebagai pengikat kesatuan sosial budaya masyarakat daerah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lambang daerah bukan merupakan simbol kedaulatan daerah.
Menjelaskan Lambang atau Simbol. Simbol daerah adalah lambang suatu daerah. Sebagai gambaran tentang >tujuan dan harapan daerah
memiliki makna sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh daerah tersebut.
Antara Logo-logo kabupaten Kebumen tersebut memiliki beberapa perbedaan yang sangat menyolok.
Apabila pemerintah daerah tidak segera mengambil sikap untuk membakukan bentuk logo kabupaten Kebumen yang benar, tidak tertutup kemungkinan, semakin lama masyarakat akan lupa, bahkan semakin  tidak tahu, sebenarnya logo Kabupaten Kebumen yang baku itu yang seperti apa, ada beberapa logo Kabupaten Kebumen di internet, Di Wikipedia
Makna logo Kabupaten Kebumen berdasarkan Sumber : Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Kabupaten Kebumen  di http://komunitaswongkebumen.blogspot.co.id
Penggunaan Lambang Daerah Kabupaten Kebumen diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen, dengan:
1. Perda No. 30a/DPRD-GR/70 tanggal 14 Oktober 1970 tentang Bentuk Lambang Daerah Kabupaten Kebumen
2. Perda No. 30b/DPRD-GR/70 tanggal 14 Oktober 1970 tentang Penggunaan dan Pemakaian Lambang Daerah Kabupaten Kebumen
Dengan bentuk, lukisan, ukuran, warna lukisan Lambang Daerah Kabupaten Kebumen adalah sebagai berikut :
  1. Perisai (dengan ukuran perbandingan 4:3); menggambarkan tekad, semangat dan kesiapsiagaan rakyat untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, dengan dasar Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
  2. Bintang segi lima berwarna emas; menggambarkan kepercayaan yang teguh dan luhur terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  3. Pegunungan; melambangkan keteguhan hati, tidak goyah mengalami tantangan alam. Menggambarkan juga sebagian daerah Kabupaten Kebumen terdiri dari tanah pegunungan.
  4. Gua; mencerminkan sifat-sifat ketenangan dan kesederhanaan dari rakyat daerah Kabupaten Kebumen dalam usahanya untuk mencapai cita-citanya yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Gua juga merupakan tempat dimana dihasilkan sarang burung.
  5. Laut; menggambarkan jiwa perjuangan yang selalu bergelora sepanjang masa; namun penuh dengan kedamaian yang abadi. Menggambarkan juga bahwa sebagian daerah Kabupaten Kebumen berbatasan dengan Samudra Indonesia
  6. Burung Lawet; menggambarkan suatu sumber penghasilan daerah dan merupakan pencerminan dari ketekunan dan kegesitan yang penuh dinamika dari rakyat daerah Kabupaten Kebumen dalam usahanya untuk membangun daerahnya.
  7. Kapas padi; menggambarkan cita-cita rakyat daerah Kabupaten Kebumen yaitu terwujudnya suatu masyarakat adil makmur berdasarkan Pancasila, murah sandang, murah pangan dan cukup papan.
  8. Mata rantai yang sambung menyambung; menggambarkan jiwa dan semangat persatuan yang hidup di kalangan rakyat.
  9. Bambu runcing; merupakan pencerminan dari sifat kepahlawanan rakyat dalam perang kemerdekaan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan dasar Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
  10. Batu bata dan genting; menggambarkan bahwa industri batu bata dan genting di Daerah Kabupaten Kebumen merupakan sumber penghi-dupan rakyat; secara simbolis menggambarkan bahwa kecuali sektor pertanian; sektor perin-dustrian juga merupakan sumber penghasilan Rakyat Daerah Kabupaten Kebumen.
    Dan perincian arti tulisan Bhumitirta Praja Mukti sebagai berikut

  • Arti kata-katanya; tanah dan air untuk kesejahteraan Bangsa dan Negara
  • Maksud dan jiwanya; bangsa Indonesia pada umumnya dan Warga Lombok,telo goreng,tempe ,tahu Daerah Kabupaten Kebumen pada khususnya sangat bersyukur ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa yang telah menganugerahi tanah yang subur dan air yang berlimpah-limpah. Anugerah yang tidak ternilai harganya itu merupakan nikmat dari Tuhan yang wajib kita manfaatkan sebaik-baiknya bagi kesejahteraan rakyat: Daerah Kabupaten Kebumen dibagian Utara terdiri dari tanah pegunungan dengan aneka warna bahan-bahan tambang yang terpendam dan dengan hutan-hutannya yang menjadi sumber mengalirnya sungai-sungai menuju ke daerah persawahan dan tegalan yang subur di sebelah selatannya yang menjadi sumber penghidupan dari sebagian besar rakyatnya. Demikian pula karena anugerah Tuhan Yang Maha Esa maka sebagian besar tanahnya merupakan bahan yang sangat baik untuk membuat batu-bata dan genteng sehingga menempatkan Daerah Kabupaten Kebumen sebagai penghasil batu-bata dan genteng yang sejak lama sudah terkenal. Di sebelah selatan daerah Kabupaten Kebumen berbatasan dengan Samudera Indonesia dengan pantainya yang penuh dengan pohon kelapa; dengan gua-guanya yang terkenal sebagai penghasil burung-burung yang berkwalitas tinggi serta lautnya yang mengandung potensi yang tak terhingga. Kesemuanya itu menimbulkan suatu kewajiban yang luhur pada kita sekalian wargadaerah Kabupaten Kebumen; untuk dengan cipta rasa; karsa dan karya kita masingmasing; selalu tekun dan penuh ketawakalan memanfaatkan modal anugerah Tuhan Yang Maha Esa tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat menuju masa depan.

Rabu, 31 Oktober 2018

Mengukuhkan Pengurus Turonggo Langgeng Budoyo Sruweng

DKD mengukuhkan Pengurus Turonggo Langgeng Budoyo Sruweng.
Bertempat di Balai  desa  Karanggedang Sruweng, pada hari Jumat (16/2) berlangsung Pengukuhan pengurus Kesenian Kuda Kepang Turonggo Langgeng Budoyo.
Pengukuhan 12 orang pengurus paguyuban kesenian ebleg tersebut dilaksanakan oleh Ketua Umum Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kab Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo.
Acara pengukuhan diawali dan diakhiri dengan pagelaran kesenian ebleg Turonggo Langgeng Budoyo berlangsung cukup meriah.

Turut hadir menyaksikan acara pengukuhan, Camat Sruweng, Kapolsek Sruweng, Kepala Dinas Pendidikan yang diwakili oleh BE Susilohadi S.Pd, Kepala desa Karanggedang, Pamungkas Wiji Hartono SH dan ratusan masyarakat pecinta kesenian ebleg di Kebumen.
Dalam sambutan pengukuhan, Ketua DKD Kab Kebumen Pekik Sat Siswonirmolo menyampaikan harapan agar paguyuban Kesenian Kuda Kepang Turonggo Langgeng Budoyo, didalam melaksanakan kegiatan kesenian tidak bertentangan dengan Pancasila, tidak menyimpang dari Undangan-Undangan Dasar 1945, tetap menjaga persatuan dan kesatuan demi menjaga keutuhan NKRI. Pekik
juga menyampaikan bahwa paguyuban Kesenian Kuda Kepang Turonggo Langgeng Budoyo dari desa Karanggedang merupakan paguyuban kesenian yang luar biasa, karena paguyuban tersebut telah berbadan, yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomer AHU-0000001.AH.01.07.TAHUN 2018. 

Selanjutnya dalam kesempatan tersebut Ketua DKD menyerahkan SK Menteri Hukum dan HAM kepada Ngadimin, selaku Ketua Kesenian Kuda Kepang Turonggo Langgeng Budoyo desa Karanggedang.
Bahkan menurut BE Susilohadi dalam sambutannya menyampaikan "Selama 27 tahun saya bertugas dibagian kesenian, baru kali ini ada pengukuhan pengurus kesenian kuda kepang atau ebleg yang dilaksanakan secara khusus, seperti di Karanggedang ini."