Sabtu, 20 Juni 2026

MENGUNGKAP JEMBLUNG DAN MENTHIET

MENGUNGKAP JEMBLUNG DAN MENTHIET

 Tradisi Teater Tutur Rakyat di Kabupaten Kebumen

Penulis: Pekik Sat Siswonirmolo
Narasumber:
Murdiono (Seniman Jemblung Kebumen)
Sodiyo (Pelaku Jemblung Kebumen)


Abstrak
Kesenian Jemblung dan Menthiet merupakan suatu bentuk seni pertunjukan rakyat yang berkembang di Kabupaten Kebumen, yang memadukan unsur cerita lisan, tembang, dialog, juga  dialog-dialog lucu. Penelitian ini berangkat dari pertanyaan mengenai bagaimana bentuk pertunjukan, fungsi sosial, serta keberadaan kesenian Jemblung di tengah perubahan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan sejarah, struktur pertunjukan, fungsi sosial, serta tantangan pelestarian Jemblung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi pustaka, dengan kerangka teori tradisi lisan dan seni pertunjukan rakyat. Narasumber utama dalam penelitian ini adalah pelaku seni Jemblung, yaitu Murdiono dan Sodiyo.
Murdiono, usia 65 tahun seniman Jemblung asal Padureso kecamatan Padureso Kebumen aktif dalam pertunjukan rakyat Kethoprak sejak tahun 1999 dan aktif dalam pertunjukan rakyat Jemblung sejak 2003
Sodiyo, pelaku seni Jemblung berusia 60 tahun, asal desa Sikayu  kecamatan Buayan dari 1986, dikenal lahir dari keluarga pendiri Jemblung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jemblung tidak hanya berfungsi sebagai hiburan rakyat, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya, sarana penyampaian nilai moral, serta representasi identitas budaya masyarakat di Kebumen. Namun demikian, kesenian ini menghadapi tantangan berupa menurunnya minat generasi muda dan berkurangnya kesempatan pementasan, sehingga diperlukan upaya dokumentasi, pendidikan budaya, serta dukungan kebijakan untuk menjaga keberlanjutannya.
Kata kunci: Jemblung, Menthiet, tradisi lisan, seni pertunjukan rakyat, Kebumen.


PENDAHULUAN


Kabupaten Kebumen merupakan provinsi di Jawa Tengah yang memiliki kekayaan budaya yang beragam, mulai dari tradisi lisan, seni pertunjukan, hingga berbagai bentuk ritual masyarakat. Di antara berbagai kesenian tradisional yang berkembang di wilayah ini, kesenian Jemblung dan Menthiet merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan rakyat yang memiliki karakter unik.
Jemblung dan Menthiet merupakan bentuk teater rakyat, berbasis tradisi lisan atau tutur yang menggabungkan unsur cerita, tembang, dialog, dan humor dalam satu pertunjukan sederhana namun komunikatif. Para pemain biasanya duduk melingkar sambil menyampaikan cerita secara lisan dengan iringan bunyi-bunyian menirukan bunyi gamelan dengan irama tertentu menggunakan suara manusia. Bentuk pertunjukan ini menunjukkan tingginya kreativitas masyarakat dalam menciptakan seni pertunjukan dengan sarana yang sederhana.
Cerita yang dibawakan biasanya berkaitan dengan kisah sejarah, babad Tanah Jawa, babad Menak, legenda, maupun cerita berisi pesan moral yang sesusi dengan kehidupan masyarakat. Bahasa yang digunakan umumnya adalah bahasa Jawa dialek Kebumen atau logat ngapak yang khas di wilayah Kebumen.
Pada masa lalu, Jemblung dan Menthiet menjadi salah satu hiburan rakyat yang cukup populer di wilayah pedesaan Kebumen. Pertunjukan ini biasanya diselenggarakan dalam berbagai kegiatan sosial seperti hajatan khitanan, tasyakuran, perayaan desa, maupun acara tradisi masyarakat. Bahkan pada masa penjajahan Jemblung digunakan oleh para pejuang untuk melakukan koordinasi dan pengaturan strategi perjuangan. Namun dalam perkembangan zaman, kesenian ini mulai jarang dipentaskan dan menghadapi ancaman kepunahan karena semakin sedikit generasi muda yang mengenalnya dan mau mpelajarinya.
Dalam konteks pemajuan kebudayaan, kesenian rakyat seperti Jemblung atau Menthiet memiliki nilai penting sebagai bagian dari identitas budaya lokal. Oleh karena itu, dokumentasi dan kajian terhadap kesenian ini menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sejarah, bentuk pertunjukan, nilai budaya, serta tantangan pelestarian kesenian Jemblung di Kabupaten Kebumen.

PEMBAHASAN


Sejarah dan Asal Usul Jemblung
Secara etimologis, kata Jemblung diyakini berasal dari ungkapan bahasa Jawa “jenjem-jenjeme wong gemblung” disingkat menjadi Jemblung yang berarti perilaku nyaman, santai atau bebas, berbicara sendiri seperti orang gila (kaya wong gemlung) dengan penuh ekspresi.
Sebagai kesenian rakyat, Jemblung diperkirakan telah berkembang sejak masa kolonial Belanda dan hidup di kalangan masyarakat desa sebagai hiburan sederhana yang tidak memerlukan perlengkapan rumit.
Dalam tradisi masyarakat Kebumen, Jemblung biasanya dipentaskan dalam berbagai kegiatan sosial seperti:
hajatan perkawinan
khitanan
sedekah desa
tasyakuran
muyi ( selamatan bayi )
perayaan tradisi masyarakat lainnya


Pertunjukan ini biasanya dilakukan pada malam hari dan berlangsung cukup lama karena cerita disampaikan secara bertahap melalui dialog, tembang, dan improvisasi humor (dhagelan).
Di beberapa wilayah Kebumen, dimasa lalu selain kesenian Jemblung masyarakat juga mengenal kesenian Menthiet.
Nama kesenian Menthiet merujuk pada tingkah laku  pemain kesenian tersebut yang hanya berjumlah satu orang, sehingga saat membawa pulang semua hidangan properti pertunjukan di atas meja, seusai pementasan. Karena banyaknya hidangan yang dikenal dengan istilah sajen tersebut sehingga pemain kesulitan membawa, dan akhirnya dipikul hingga semoyongan yang dalam istilah Kebumenan dikatakan;
“ Saking akehe sajen sing digawa gole mikul nganti menthiat-menthiet”.


Bentuk dan Struktur Pertunjukan Jemblung
Secara umum pertunjukan Jemblung dimainkan oleh empat sampai lima orang pemain bahkan bisa lebih yang memiliki peran berbeda dalam pementasan.
Beberapa peran utama dalam pertunjukan Jemblung antara lain:
Dalang Jemblung
Tokoh utama yang membawakan cerita dan mengendalikan alur pertunjukan.
Sinden
Menjadi penembang yang menyanyikan berbagai tembang sebagai pengiring cerita. Merangkap dialog memerankan tokoh-tokoh dalam cerita.
Pemain
Pengiring vokal yaitu Pemain yang menirukan bunyi alat musik gamelan seperti kendang, gong, atau kenong, dengan gending- gending tertentu menggunakan suara mulut sebagai ciri khas pertunjukan Jemblung atau Menthiet. Merangkap merangkap dialog memerankan tokoh-tokoh dalam cerita.
Selain itu, properti yang digunakan biasanya sangat sederhana, seperti:
meja
kendi atau tempayan
tenong keranjang tempat meletakkan buah-buahan dan makanan pacitan ( jajan pasar)
Peralatan rumah tangga
Buah-buahan dan makanan pacitan ( jajan pasar)
Hal ini menunjukkan bahwa Jemblung merupakan kesenian rakyat yang lahir dari kreativitas masyarakat dengan sarana yang sederhana.
Nilai Budaya dalam Kesenian Jemblung
Kesenian Jemblung tidak hanya berfungsi sebagai hiburan masyarakat, tetapi juga memiliki fungsi sebagai alat perjuangan dan pendidikan sosial budaya.
Beberapa nilai yang terkandung dalam kesenian ini antara lain:
Nilai moral
Cerita Jemblung sering mengandung pesan tentang kejujuran, kesederhanaan, dan kehidupan yang harmonis.
Nilai pendidikan
Melalui cerita rakyat dan babad sejarah, masyarakat dapat belajar tentang sejarah dan kearifan lokal.
Nilai sosial
Pertunjukan Jemblung menjadi sarana berkumpulnya masyarakat dan mempererat hubungan sosial.
Nilai kritik sosial
Humor dan dialog dalam Jemblung sering digunakan untuk menyampaikan kritik terhadap kondisi sosial masyarakat.
Dengan demikian, kesenian Jemblung memiliki peran penting sebagai media komunikasi sosial budaya masyarakat.
Jemblung di Kebumen Masa Kini
Dalam beberapa dekade terakhir, keberadaan Jemblung semakin jarang dijumpai. Banyak kelompok kesenian yang tidak lagi aktif karena kurangnya regenerasi pemain.
Beberapa pelaku seni yang turut mempertahankan tradisi ini di Kebumen antara lain adalah almarhum Wahidun, almarhum Bambang Cermocarito, Mudiono dan Sudiono.
Menurut para pelaku seni tersebut yang masih hidup, tantangan utama dalam pelestarian Jemblung adalah:
kurangnya minat generasi muda
minimnya kesempatan pementasan
kurangnya dokumentasi kesenian tradisional
Namun demikian, upaya pelestarian masih bisa dilakukan melalui kegiatan festival budaya, pelatihan seni tradisional, dan dokumentasi oleh komunitas budaya.
SIMPULAN
Jemblung dan Menthiet merupakan salah satu warisan budaya penting masyarakat Kabupaten Kebumen yang memiliki karakter unik sebagai teater tutur rakyat berbasis tradisi lisan.
Kesenian ini tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga mengandung nilai moral, pendidikan, dan kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
Upaya pelestarian kesenian Jemblung memerlukan dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah daerah, komunitas seni, maupun generasi muda agar kesenian ini tetap hidup dan berkembang di masa depan.
Penulis juga menyampaikan penghargaan kepada para seniman Jemblung Kebumen yang telah berperan dalam pelestarian kesenian ini, khususnya almarhum Bambang Cermocarito dan almarhum Wahidun, yang semasa hidupnya aktif dalam pementasan Jemblung dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi berikutnya. Juga kepada bapak Mudiono dan bapak Sodiyo yang telah berkenan membagikan kepada penulis pengetahuan tentang kesenian Jemblung dan Menthiet di Kebumen.

Narasumber
Mudiono – seniman Jemblung Kebumen
Sodiyo– Seniman Jemblung Kebumen

Festival Jamjaneng Lesbumi NU Kebumen




 Festival Jamjaneng Lesbumi NU Kebumen diselenggarakan pada Sabtu, 20 Juni sampai dengan 21 Juni 2026 bertempat di aula STAINU Kebumen.

Festival SE kabupaten itu diikuti 30 peserta. Penilaian dilakukan oleh 3 orang juri yaitu BE Susilohadi S.Pd., Sutarjo S.Pd dan Pekik Sat Siswonirmolo M.Pd.


Juri Jamjaneng 1 BE Susilohadi, Juri Jamjaneng 2 Pekik Sat Siswonirmolo, juri Jamjaneng 3 Sutarjo


Menurut Pekik Sat Siswonirmolo selaku juri festival jamjaneng, festival diikuti 30 peserta wakil dari NU kecamatan se kab. Kebumen.

Setiap peserta membawakan 1 lagu wajib dan 1 lagu pilihan dengan total waktu penampilan 20 menit. Untuk kriteria penjurian meliputi vokal, Arasemen atau musik dan penampilan atau adab


Selasa, 28 April 2026

Milad Sewindu Forum EKA, Ribuan Pecinta Ebeg Padati Alun-Alun Pancasila Kebumen

 


Ebeg Warok digelar pada Milad Sewindu Forum EKA Kebumen

Kebumen, 25 April 2026 — Ribuan masyarakat dan pecinta seni tradisi memadati kawasan timur laut , Sabtu malam (25/4), dalam gelaran Milad Sewindu Forum Ebeg Kebumen Aji (Forum EKA). Perayaan delapan tahun organisasi para pelaku seni ebeg itu berlangsung meriah dan penuh antusiasme.
Sejak sore hari, rangkaian acara telah dimulai dengan penampilan dua grup ebeg, yakni Condro Lestari Budaya dan Cakra Manunggal Sari dari Kecamatan Sruweng. Kedua penampilan tersebut sukses menyedot perhatian pengunjung yang memadati area pertunjukan.
Memasuki malam hari, suasana semakin semarak saat Grup Lenggeran Forum EKA menampilkan tari tradisional lengger di bawah pimpinan Slamet Sodirin, yang juga menjabat Ketua Umum Forum EKA Kebumen. Penampilan tersebut disambut tepuk tangan meriah dari para penonton.



Puncak acara malam itu ditandai dengan tampilnya Ebeg Warok Jaten Waluyo dari Desa Tlagasari, Kecamatan Ayah, pimpinan Satimin. Sajian ebeg dengan karakter khas tersebut menjadi daya tarik tersendiri dan memberi warna berbeda dalam peringatan Sewindu Forum EKA.
Forum EKA sendiri memiliki sejarah penting dalam perkembangan seni ebeg di Kebumen. Organisasi ini dibentuk pada 28 Januari 2018, difasilitasi oleh  di  sebagai wadah silaturahmi, komunikasi, dan penguatan antargrup ebeg di Kabupaten Kebumen.
Hadir dalam acara tersebut anggota  Saiful Hadi, S.I.Kom, yang menyampaikan apresiasi atas semangat gotong royong para anggota Forum EKA. Menurutnya, peringatan Milad Sewindu terlaksana dari swadaya internal anggota Forum EKA yang saat ini berjumlah sekitar 300 grup.
Dalam sambutannya, Saiful Hadi mengajak masyarakat untuk terus mencintai budaya daerah. Ia juga menyampaikan jargon yang disambut antusias penonton:
“Wong Kebumen duwe gawe ora nanggap ebeg ora maen, nonton ebeg pantang pulang sebelum janturan, ora mendem ora marem.”


Ketua Umum Forum EKA, Slamet Sodirin, berharap momentum Sewindu menjadi penguat persaudaraan dan kekompakan seluruh anggota.
“Semoga Forum EKA yang selama ini sudah solid, ke depan semakin solid dan semakin maju dalam melestarikan seni ebeg,” ujarnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut para tokoh seni, pegiat budaya, serta pengurus . Dari unsur pengurus hadir Koordinator Bidang Seni dan Tradisi Lisan, Pekik Sat Siswonirmolo, sebagai bentuk dukungan terhadap keberlangsungan seni tradisi rakyat di Kabupaten Kebumen.
Perayaan Milad Sewindu Forum EKA menjadi bukti bahwa seni ebeg tetap hidup, dicintai masyarakat, dan memiliki tempat penting dalam identitas budaya Kebumen. Di tengah perkembangan zaman, tradisi tetap bergerak bersama rakyatnya.

Minggu, 01 Februari 2026

Anniversary ke-8 PPKLK Gelar Ebeg Kebumenan


Anniversary ke-8 PPKLK Gelar Ebeg Kebumenan

Bertempat di halaman SMP-SMK 10 Nopember desa Karangmaja kec. Karanggayam ratusan orang hadir menyaksikan kemeriahan pagelaran  kesenian ebeg Kebumenan.
Pada pagelaran pada Minggu Paing 25 Januari 2026  os rangka Ulang tahun ke-8  Paguyuban Pecinta Kuda Lumping  Kebumen ( PPKLK) tersebut selain ditampilkan grup ebeg Putra Laras Budaya dari Dk. Wanayasa DS. Karangmaja kec. Karanggayam yang berkolaborasi dengan beberapa grup ebeg lainnya, juga ada acara Potong Tumpeng. Bahkan yang menarik pada sesi pertama ditampilkan penari ebeg yang masih usia anak-anak dan remaja, mereka masih sekolah antara kelas 4 SD sampai kelas 7 SMP.
Menurut Agung Nugroho selaku Ketua Umum PPKLK, Pada tahun 2018 paguyuban awalnya digagas oleh Wardi Watulawang bersama sesama beberapa pecinta kuda lumping atau ebeg, disamping bertujuan menghimpun para pecinta kesenian ebeg untuk  turut melestarikan kesenian tradisional ebeg di Kebumen, juga turut serta menjaga agar setiap pertunjukan ebeg dapat berlangsung secara tertib dan lancar.
Lebih lanjut Agung berharap kedepan PPKLK  semakin kopak, sehingga dapat mengadakan kegiatan anniversary  secara bergilir di tempat lain. Dan generasi muda bisa mempertahan kan kesenian ebeg yang ada di Kebumen.
Hadir pada acara tersebut pengurus Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kab. Kebumen yang diwakili Koordinator Bidang Seni dan Tradisi lisan DKD  Pekik Sat Siswonirmolo dan Kepala desa Karangmaja  Tunjang Mugiono dan beberapa tamu undangan yang merupakan perwakilan pengurus grup ebeg di Kebumen Ebeg.
Dalam sambutannya Kepala desa Karangmaja Tunjang Mugiono menyampaikan apresiasi pada anniversary PPKLK yang ke-8, juga berharap PPKLK semakin berkembang, kompak dan memberi manfaat pada kesenian ebeg di Kebumen. Secara umum Tunjang Mugiono selaku pemerintah desa siap mendukung pelestarian dan pengembangan kesenian yang ada di desa Karangmaja.
Menurut Koordinator Bidang Seni dan Tradisi Lisan DKD  Pekik Sat Siswonirmolo, dengan tampilnya penari ebeg yang masih anak-anak dan remaja, menunjukan bahwa pada komunitas kesenian ebeg telah berkomitmen untuk melakukan regenerasi, pengkaderan pada generasi muda.

Konser Amal SILOKA Konser Musik Unik di Atas di Sungai.

Konser Amal SILOKA  Konser Musik Unik di Atas di Sungai.

Bertempat di Da Grasses Panoramic, dukuh Japanan,  Ungaran, Kutowinangun, Sabtu malam (27/09/2025) digelar Konser Amal SILOKA (Simphony Lantunan Orkestra untuk Kebumen Damai).

Konser tersebut resmi Dibuka oleh Wakil Bupati Kebumen Zaeni Miftah

Uniknya Konser musik tersebut digelar diatas sungai sehingga menghadirkan suasana yang tak biasa, membuat wakil Bupati bersama penonton larut dalam alunan orkestra yang memadukan seni, harmoni, dan pesan-pesan kepedulian sosial.

Setelah dibuka dengan lagu Kebangsaan Indonesia Raya, konser diawali dengan alunan seruling bambu yang mendayu-dayu, mengiring rangkaian narasi puitis yang indah.

Disusul Solo biola oleh violinis kecil  Haviola dengan iringan pianis kecil Rico, di dukung Solo Saksofon oleh Widi membawakan lagu Ibu Pertiwi yang mengharukan, dan Solo Saksofon oleh Widi dengan lagu Mimpi.

Penampilan Kebumen Violin Orchestra (KVO) di panggung unik malam itu, luar biasa bukan hanya hiburan semata, tapi juga ajakan untuk bersatu dalam semangat perdamaian dan gotong royong.

Dengan konser KVO ini, seni menjadi cara yang indah untuk kembali ke alam,  menggalang solidaritas, menghadirkan harapan baru bagi Kebumen yang lebih damai dan penuh kebersamaan.

Taufik ismail selaku music direc dan instruktur biola KVO mengatakan "Di atas aliran sungai yang tenang, harmoni biola anak-anak berpadu dengan suara alam. Konser sebagai perayaan keindahan, keberanian, dan mimpi yang tumbuh dari tangan-tangan kecil. Harmoni orchestra bisa tercipta di mana saja bahkan di atas sungai, ini benar benar sebuah panggung orchestra yang jarang ditemui, unik dan "menggigit, "sadis" sekaligus romantis, alunan nada ini menjadi jembatan antara ketulusan hati anak-anak dengan semesta yang mendengar.”

Konser KVO dengan jumlah peserta 76 pemain biola anak-anak dan 4  Cello dari ISI Yogyakarta, menyuguhkan alunan musik indah dari atas sungai tersebut memang berhasil memikat perhatian warga yang memadati tepian sungai.

Agus Suleman selaku Ketua KVO berharap Konsen unik di atas sungai yang digelar di Da Grasses Panoramic, dukuh Japanan Ungaran ini dapat menjadi agenda Budaya pemkab Kebumen yang diselenggarakan rutin setiap tahun.

Selaku pemerhati budaya dan Pembina KVO, Pekik Sat Siswonirmolo menjelaskan bahwa pertunjukan konser ini bukan sekedar sebuah pertunjukan biasa, tetapi juga sebuah ajakan untuk melihat kembali sungai sebagai identitas denyut nadi budaya yang layak diperhatikan. 


.