MENGUNGKAP JEMBLUNG DAN MENTHIET
Tradisi Teater Tutur Rakyat di Kabupaten Kebumen
Penulis: Pekik Sat Siswonirmolo
Narasumber:
Murdiono (Seniman Jemblung Kebumen)
Sodiyo (Pelaku Jemblung Kebumen)
Abstrak
Kesenian Jemblung dan Menthiet merupakan suatu bentuk seni pertunjukan rakyat yang berkembang di Kabupaten Kebumen, yang memadukan unsur cerita lisan, tembang, dialog, juga dialog-dialog lucu. Penelitian ini berangkat dari pertanyaan mengenai bagaimana bentuk pertunjukan, fungsi sosial, serta keberadaan kesenian Jemblung di tengah perubahan masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan sejarah, struktur pertunjukan, fungsi sosial, serta tantangan pelestarian Jemblung. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi pustaka, dengan kerangka teori tradisi lisan dan seni pertunjukan rakyat. Narasumber utama dalam penelitian ini adalah pelaku seni Jemblung, yaitu Murdiono dan Sodiyo.
Murdiono, usia 65 tahun seniman Jemblung asal Padureso kecamatan Padureso Kebumen aktif dalam pertunjukan rakyat Kethoprak sejak tahun 1999 dan aktif dalam pertunjukan rakyat Jemblung sejak 2003
Sodiyo, pelaku seni Jemblung berusia 60 tahun, asal desa Sikayu kecamatan Buayan dari 1986, dikenal lahir dari keluarga pendiri Jemblung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jemblung tidak hanya berfungsi sebagai hiburan rakyat, tetapi juga sebagai media komunikasi budaya, sarana penyampaian nilai moral, serta representasi identitas budaya masyarakat di Kebumen. Namun demikian, kesenian ini menghadapi tantangan berupa menurunnya minat generasi muda dan berkurangnya kesempatan pementasan, sehingga diperlukan upaya dokumentasi, pendidikan budaya, serta dukungan kebijakan untuk menjaga keberlanjutannya.
Kata kunci: Jemblung, Menthiet, tradisi lisan, seni pertunjukan rakyat, Kebumen.
PENDAHULUAN
Kabupaten Kebumen merupakan provinsi di Jawa Tengah yang memiliki kekayaan budaya yang beragam, mulai dari tradisi lisan, seni pertunjukan, hingga berbagai bentuk ritual masyarakat. Di antara berbagai kesenian tradisional yang berkembang di wilayah ini, kesenian Jemblung dan Menthiet merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan rakyat yang memiliki karakter unik.
Jemblung dan Menthiet merupakan bentuk teater rakyat, berbasis tradisi lisan atau tutur yang menggabungkan unsur cerita, tembang, dialog, dan humor dalam satu pertunjukan sederhana namun komunikatif. Para pemain biasanya duduk melingkar sambil menyampaikan cerita secara lisan dengan iringan bunyi-bunyian menirukan bunyi gamelan dengan irama tertentu menggunakan suara manusia. Bentuk pertunjukan ini menunjukkan tingginya kreativitas masyarakat dalam menciptakan seni pertunjukan dengan sarana yang sederhana.
Cerita yang dibawakan biasanya berkaitan dengan kisah sejarah, babad Tanah Jawa, babad Menak, legenda, maupun cerita berisi pesan moral yang sesusi dengan kehidupan masyarakat. Bahasa yang digunakan umumnya adalah bahasa Jawa dialek Kebumen atau logat ngapak yang khas di wilayah Kebumen.
Pada masa lalu, Jemblung dan Menthiet menjadi salah satu hiburan rakyat yang cukup populer di wilayah pedesaan Kebumen. Pertunjukan ini biasanya diselenggarakan dalam berbagai kegiatan sosial seperti hajatan khitanan, tasyakuran, perayaan desa, maupun acara tradisi masyarakat. Bahkan pada masa penjajahan Jemblung digunakan oleh para pejuang untuk melakukan koordinasi dan pengaturan strategi perjuangan. Namun dalam perkembangan zaman, kesenian ini mulai jarang dipentaskan dan menghadapi ancaman kepunahan karena semakin sedikit generasi muda yang mengenalnya dan mau mpelajarinya.
Dalam konteks pemajuan kebudayaan, kesenian rakyat seperti Jemblung atau Menthiet memiliki nilai penting sebagai bagian dari identitas budaya lokal. Oleh karena itu, dokumentasi dan kajian terhadap kesenian ini menjadi penting untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan sejarah, bentuk pertunjukan, nilai budaya, serta tantangan pelestarian kesenian Jemblung di Kabupaten Kebumen.
PEMBAHASAN
Sejarah dan Asal Usul Jemblung
Secara etimologis, kata Jemblung diyakini berasal dari ungkapan bahasa Jawa “jenjem-jenjeme wong gemblung” disingkat menjadi Jemblung yang berarti perilaku nyaman, santai atau bebas, berbicara sendiri seperti orang gila (kaya wong gemlung) dengan penuh ekspresi.
Sebagai kesenian rakyat, Jemblung diperkirakan telah berkembang sejak masa kolonial Belanda dan hidup di kalangan masyarakat desa sebagai hiburan sederhana yang tidak memerlukan perlengkapan rumit.
Dalam tradisi masyarakat Kebumen, Jemblung biasanya dipentaskan dalam berbagai kegiatan sosial seperti:
hajatan perkawinan
khitanan
sedekah desa
tasyakuran
muyi ( selamatan bayi )
perayaan tradisi masyarakat lainnya
Pertunjukan ini biasanya dilakukan pada malam hari dan berlangsung cukup lama karena cerita disampaikan secara bertahap melalui dialog, tembang, dan improvisasi humor (dhagelan).
Di beberapa wilayah Kebumen, dimasa lalu selain kesenian Jemblung masyarakat juga mengenal kesenian Menthiet.
Nama kesenian Menthiet merujuk pada tingkah laku pemain kesenian tersebut yang hanya berjumlah satu orang, sehingga saat membawa pulang semua hidangan properti pertunjukan di atas meja, seusai pementasan. Karena banyaknya hidangan yang dikenal dengan istilah sajen tersebut sehingga pemain kesulitan membawa, dan akhirnya dipikul hingga semoyongan yang dalam istilah Kebumenan dikatakan;
“ Saking akehe sajen sing digawa gole mikul nganti menthiat-menthiet”.
Bentuk dan Struktur Pertunjukan Jemblung
Secara umum pertunjukan Jemblung dimainkan oleh empat sampai lima orang pemain bahkan bisa lebih yang memiliki peran berbeda dalam pementasan.
Beberapa peran utama dalam pertunjukan Jemblung antara lain:
Dalang Jemblung
Tokoh utama yang membawakan cerita dan mengendalikan alur pertunjukan.
Sinden
Menjadi penembang yang menyanyikan berbagai tembang sebagai pengiring cerita. Merangkap dialog memerankan tokoh-tokoh dalam cerita.
Pemain
Pengiring vokal yaitu Pemain yang menirukan bunyi alat musik gamelan seperti kendang, gong, atau kenong, dengan gending- gending tertentu menggunakan suara mulut sebagai ciri khas pertunjukan Jemblung atau Menthiet. Merangkap merangkap dialog memerankan tokoh-tokoh dalam cerita.
Selain itu, properti yang digunakan biasanya sangat sederhana, seperti:
meja
kendi atau tempayan
tenong keranjang tempat meletakkan buah-buahan dan makanan pacitan ( jajan pasar)
Peralatan rumah tangga
Buah-buahan dan makanan pacitan ( jajan pasar)
Hal ini menunjukkan bahwa Jemblung merupakan kesenian rakyat yang lahir dari kreativitas masyarakat dengan sarana yang sederhana.
Nilai Budaya dalam Kesenian Jemblung
Kesenian Jemblung tidak hanya berfungsi sebagai hiburan masyarakat, tetapi juga memiliki fungsi sebagai alat perjuangan dan pendidikan sosial budaya.
Beberapa nilai yang terkandung dalam kesenian ini antara lain:
Nilai moral
Cerita Jemblung sering mengandung pesan tentang kejujuran, kesederhanaan, dan kehidupan yang harmonis.
Nilai pendidikan
Melalui cerita rakyat dan babad sejarah, masyarakat dapat belajar tentang sejarah dan kearifan lokal.
Nilai sosial
Pertunjukan Jemblung menjadi sarana berkumpulnya masyarakat dan mempererat hubungan sosial.
Nilai kritik sosial
Humor dan dialog dalam Jemblung sering digunakan untuk menyampaikan kritik terhadap kondisi sosial masyarakat.
Dengan demikian, kesenian Jemblung memiliki peran penting sebagai media komunikasi sosial budaya masyarakat.
Jemblung di Kebumen Masa Kini
Dalam beberapa dekade terakhir, keberadaan Jemblung semakin jarang dijumpai. Banyak kelompok kesenian yang tidak lagi aktif karena kurangnya regenerasi pemain.
Beberapa pelaku seni yang turut mempertahankan tradisi ini di Kebumen antara lain adalah almarhum Wahidun, almarhum Bambang Cermocarito, Mudiono dan Sudiono.
Menurut para pelaku seni tersebut yang masih hidup, tantangan utama dalam pelestarian Jemblung adalah:
kurangnya minat generasi muda
minimnya kesempatan pementasan
kurangnya dokumentasi kesenian tradisional
Namun demikian, upaya pelestarian masih bisa dilakukan melalui kegiatan festival budaya, pelatihan seni tradisional, dan dokumentasi oleh komunitas budaya.
SIMPULAN
Jemblung dan Menthiet merupakan salah satu warisan budaya penting masyarakat Kabupaten Kebumen yang memiliki karakter unik sebagai teater tutur rakyat berbasis tradisi lisan.
Kesenian ini tidak hanya menyajikan hiburan, tetapi juga mengandung nilai moral, pendidikan, dan kearifan lokal yang relevan dengan kehidupan masyarakat.
Upaya pelestarian kesenian Jemblung memerlukan dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah daerah, komunitas seni, maupun generasi muda agar kesenian ini tetap hidup dan berkembang di masa depan.
Penulis juga menyampaikan penghargaan kepada para seniman Jemblung Kebumen yang telah berperan dalam pelestarian kesenian ini, khususnya almarhum Bambang Cermocarito dan almarhum Wahidun, yang semasa hidupnya aktif dalam pementasan Jemblung dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi berikutnya. Juga kepada bapak Mudiono dan bapak Sodiyo yang telah berkenan membagikan kepada penulis pengetahuan tentang kesenian Jemblung dan Menthiet di Kebumen.
Narasumber
Mudiono – seniman Jemblung Kebumen
Sodiyo– Seniman Jemblung Kebumen


Tidak ada komentar:
Posting Komentar